Jembatan Kebajikan,The Virtuous Bridge

Setelah Tjong Yong Hian meninggal dunia (1850-1911). Putra tertuanya Chang Pu Ching membangun “sebilah jembatan” yang melintasi Sungai Babura dan menghubungkan dua Jalan utama yakni, KH. Zainul Arifin dan Jalan Gajah Mada.  Jembatan ini dinamakan “Jembatan Kebajikan.” Dan pada tahun 2003, Jembatan Kebajikan mendapat penghargaan dari UNESCO (Asia Pacific Heritage) Award Of Merit Virtuous Bridge, Medan, Indonesia sebagai jembatan yang masuk dalam konservasi warisan budaya.
Jembatan Kebajikan- Virtuous Bridge yang menghubungkan Jalan Zainul Arifin Kampong Madras dan Jalan Gajah Mada. Sejak dibangun 99 tahun lalu (2015-1916), kondisi Jembatan Kebajikan sama seperti aslinya dan mengalami pelebaran jalan tahun 1993. Jembatan ini dibuat untuk mengenang Tjong Yong Hian (1850-1911). Saat ini di kota Medan setiap jembatan rata-rata dicat dengan warna hijau dan kuning, warna Khas Melayu.
Jembatan Kebajikan - TheVirtuous Bridge yang menghubungkan Jalan Zainul Arifin Kampong Madras dan Jalan Gajah Mada. Sejak dibangun 99 tahun lalu (2015-1916), kondisi Jembatan Kebajikan sama seperti aslinya dan mengalami pelebaran jalan tahun 1993. Jembatan ini dibuat untuk mengenang Tjong Yong Hian (1850-1911). Saat ini di kota Medan setiap jembatan rata-rata dicat dengan warna hijau dan kuning, warna Khas Melayu. /Dok. Setiadi R. Saleh

Tjong Yong Hian adalah saudara kandung Tjong A Fie. Abang beradik ini adalah seorang taipan dan dikenal luas dalam pergaulan serta berjiwa filantropis. Melalui Yayasan Belai Kasih  (Kie Sut Tiong) Tjong bersaudara ikut menyokong pembangunan Vihara Setia Budi (Kuan Tee Biao), Rumah Sakit di Belawan, Vihara Tian Hou, Vihara Kuan Im, dan Mesjid Lama.

Adapun makna dari dinamakan Jembatan Kebajikan, karena semasa Tjong Yong Hian dan Tjong A Fie masih hidup telah terjalin suatu hubungan yang harmonis antara Melayu, Tionghoa, India, dan Belanda (Eropa).

Hal ini menandakan bahwa Tanah Deli (Medan) hingga kini adalah suatu kota yang dinamis dan terbuka bagi siapa saja sehingga tidak mengherankan telah hidup masyarakat yang hidup multietnik dengan masing-masing kultur dan bahasa.
De Tjong Yong Hian Brug/Repro COLLECTIE TROPENMUSEUM/Dok.
De Tjong Yong Hian Brug/Repro COLLECTIE TROPENMUSEUM.
/Dok. Setiadi R. Saleh

Bagi yang ingin melihat “Jembatan Kebaikan” dari dekat, jembatan ini berada di Kampong Madras (dahulu orang menyebut Kampong Keling), berdekatan dengan Hotel Camridge Jalan S. Parman. Konstruksi Jembatan Kebajikan yang sekarang secara fisik adalah jembatan yang sama 99 tahun lalu ketika dibangun pada  tahun 1916.


Kalaulah tidak ada papan informasi yang menerangkan bahwa jembatan yang biasa dilewati tersebut adalah jembatan bersejarah, publik tentu tidak akan mengetahuinya.

Papan informasi berisi keterangan sejarah dibuatnya Jembatan Kebajikan untuk menghormati dan mengenang jasa Tjong Yong Hian.
Papan informasi berisi keterangan sejarah dibuatnya Jembatan Kebajikan
untuk menghormati dan mengenang jasa Tjong Yong Hian. /Dok. Setiadi R. Saleh.

Kini, usia “Jembatan Kebaikan” 100 tahun, sebuah jembatan bersejarah yang menghubungkan jalan Zainul Arifin (Calcuta Straat) dan Gajah Mada (Coen Straat), dan sebenarnya pun, bukan hanya menghubungkan jalan tetapi sebagai simbol hubungan dan pertemuan antar bangsa-bangsa di dunia.

Baca juga:
Mengenal Tjong Yong Hian (1850-1911), Abang Kandung Tjong A Fie
Mesjid Lama, Mesjid Bengkok Medan

Penulis: Setiadi R. Saleh
Kutipan Favorit: "Seruan Sanubari"
Sumber: SeMedan.com - Seputar Medan

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *