Penting dicatat, hati-hati membeli barang di pasar ular. Jangan tergiur rayuan maut pedagang di pasar ular. Teliti sebelum membeli, jangan sampai setibanya di rumah barang yang dibeli tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Hunting barang antik, unik, dan kuno, satu di antaranya adalah di Pasar Ular. Sayangnya, pasar ular tidak menjadi ikon local market di Kota Medan. Padahal pasar ular dapat menjadi destinasi wisata unik khas Kota Medan.
Selain berbelanja, orang bisa bernostalgia terbang ke masa silam melihat barang-barang zaman dahulu yang sampai kini rupanya masih ada yang berminat untuk dikoleksi atau diperjual-belikan kembali.
Satu hal yang bikin heran, kalau diperhatikan baik-baik. Sebenarnya yang dijual itu hampir 90% barang rongsokan yang sudah tidak terpakai alias sampah. Tetapi, aneh binti ajaib ada saja yang tertarik untuk membeli.

Tawar-menawar harga bukan hanya terjadi antara penjual dan pembeli. Tetapi juga sama-sama penjual bisa saling tawar-menawar, seru dan lucu. /Dok. Setiadi R. Saleh
Ingat, kalau ke pasar ular jangan parkir sepeda motor sembarangan. Entah di mana juru parkirnya. Silap mata, bisa “lewong” kereta awak. Cari tempat parkir yang aman dekat bank atau pertokoan yang jelas-jelas ada tukang parkirnya.
Hati-hati sekali banyak ‘ular’ di pasar ular. Bukan ular sungguhan melainkan tipu-menipu seperti ular. Akal-mengakali licik seperti ular. Itulah sebabnya dinamakan pasar ular.
Anggap sudah biasa dan sering ke pasar ular, walaupun baru pertama kali. Dengan demikian, abang-abang penjual tak canggung dan bisa diajak ketawa-tawa.
Bayangkan, barang sampah saja bisa berharga dan kenapa demikian mahal seperti sepatu butut, dompet bau, dan bola lampu bekas pakai dan lain sebagainya.
Ilmu yang harus dipelajari dari pasar ular adalah teliti dan tak usah dibawa kali gaya intelek atau orang terpelajar. Bawa gaya pasaran, tawar-menawar sepuasnya, cocok kau rasanya, angkat!
Baca juga: Robohnya Prasasti NICA dan Lokalisasi Belinun Medan Area














Komentar