Sekolah Umum atau Pesantren, Trend Baru Dunia Pendidikan

Bagi sebagian orang tua memilih sekolah anak perkara mudah. Tetapi, bagi sebagian lain sungguh tidak mudah. Terlebih ketika dihadapkan pilihan apakah anak harus sekolah umum ataukah mondok di pesantren. Barangkali, pertanyaannya harus diubah bukan mana lebih baik anak sekolah umum atau pesantren? Tetapi, bagaimana selama menempuh studi anak bisa menaruh hormat kepada guru, berbakti kepada orangtua, dan kelak berguna bagi agama, nusa dan bangsa.
Sekolah Umum atau Pesantren, Trend Baru Dunia Pendidikan
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Munziri, Tuan Guru Ustad Jakfar (jubah hijau) bersama para santri. © SeMedan.com

Menarik untuk dicermati, antara pesantren dan sekolah umum masing-masing institusi memiliki metodologi dan kurikulum unggulan dalam menyelenggarakan pendidikan, pengajaran, pembelajaran dan pelatihan. Tidak ada satupun institusi pendidikan yang menginginkan siswa-siswinya menjadi terbelakang, semuanya ingin terdepan dalam segala bidang.

Iklan oleh Google

Memang, tidak ada jaminan sekolah umum atau pondok pesantren. Lalu kemudian, budi pekerti (akhlak) anak menjadi lebih baik. Pekerti yang baik, tumbuh dan berkembang dari hasil tempaan dan pelatihan diri, bukan semata diberikan (dicetak) dari institusi pendidikan dan tenaga pengajar. Walaupun atas nama kedisiplinan dengan memberikan reward (ganjaran) dan punishment (hukuman) supaya pelajaran dapat diserap dengan sempurna.Faktanya, anak-anak lebih memerlukan teladan daripada doktrin dan teori.Inilah yang hilang dalam dunia pendidikan kita yaitu,teladan!

Sayangnya dan semoga kita semua dapat mengambil pelajaran. Untuk sekolah umum, sedikit sekali stigma negatifnya. Sedangkan pondok pesantren sebaliknya. Pondok pesantren banyak kena fitnah seperti pesantren adalah pondok untuk menempa pribadi-pribadi militan dan penyebar paham radikal. Aneh dan lucunya, media massa pun terkadang memperkuat stereotipe dan mengeneralisir pesantren pasti demikian. Terlebih bila ada kasus pengeboman dan kriminalisasi teror. Kalau yang berbuat dari oknum Muslim-Islam disebut terorisme, sedangkan non Muslim-Islam paling-paling disebut pria bersenjata yang mencoba mengganggu ketertiban umum.

Sedemikian kuatnya hal ini merasuk ke alam bawah sadar sampai-sampainya sebagian orangtua takut menyekolahkan anaknya di pesantren. Pilihlah pesantren yang bermazhab Imam Syafi’I, menggunakan 4 fondasi utama sumber rujukan hukum: Al-Qur’an, Hadist, Pendapat Ulama, dan Qiyas (hukum perbandingan), tak lupa bershalawat kepada Nabi Muhammad saw, tidak menghina para sahabat, dan selalu menghormati khulafaur rasyidin (Abu Bakar, Umar, Ustman, dan Ali), dan pesantren yang bergiat dalam usaha Rasulullah Saw, menghidupkan masjid dan silaturrahim (dakwah). Kalau ada pesantren yang belum apa-apa sudah saling memfitnah, sesat-menyesatkan, bid’ah-membid’ahkan, sebaiknya jauhi pesantren tersebut.

Iklan oleh Google

Rasanya, sungguh berat “berpisah” dengan anak walaupun satu malam. Apalagi kalau anak yang masuk pesantren tersebut baru berusia 10-12 tahun (tamat SD). Tetapi, pertolongan Allah SWT adalah nyata. Bagi orangtua yang anaknya di pesantren. Semoga tabah, ikhlas, sabar dan kuat hati. Insya Allah, selesai studi nanti anak menjadi berbakti kepada orangtua dan cinta agama Allah untuk dunia dan akhirat. Siapa yang menolong agama Allah. Maka, Allah akan menolongnya dan menjamin rezeki yang berlimpah-ruah tanpa diduga-duga.

Penulis: Setiadi Rachmat Saleh
Kutipan Favorit: "Seruan Sanubari"
Sumber: SeMedan.com

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *