Sedekah Kepada Peminta-Minta, Ikhlas atau Terpaksa Iba

Doktrin tangan di atas lebih baik ketimbang tangan di bawah sudah terpatri erat dalam benak kita. Sehingga tak jarang jika ada kelebihan rezeki, tanpa sungkan kita mengisi kotak infaq masjid ataupun menyantuni anak yatim yang berada di sekitar rumah maupun melalui lembaga. Tidak hanya itu, sering pula kita rela merogoh dompet yang sudah menipis, dikarenakan rasa iba melihat keadaan seseorang yang sedang tertimpa musibah semacam bencana alam dan penyakit. Pastinya kita semua setuju bahwa bersedekah merupakan salah satu bentuk ketaatan akan perintah Allah dan sunah Rasulullah. Selain itu, bersedekah juga menjadi salah satu bentuk penyaluran sisi humanis seorang manusia terhadap manusia lain. Sehingga apapun agama yang dianut, banyak orang menyisihkan sebagian rezeki mereka demi membantu sesama manusia sesuai dengan fitrahnya.
Sedekah Kepada Peminta-Minta, Ikhlas atau Terpaksa Iba
Peminta-minta yang masih belia dan berbadan sehat di ruas jalan Kota Medan. © Tika Dwi

Berkenaan dengan sedekah, saya memiliki kisah yang mungkin bisa dijadikan hikmah bagi kita semua. Beberapa waktu silam, media televisi ramai  memberitakan tentang pengemis ibukota yang ternyata tidak semiskin semestinya. Di kampungnya, mereka memiliki rumah permanen serta binatang ternak, bahkan ada pengemis yang berencana berangkat haji dari uang hasil mengemisnya. Subhanallah.

Di kota Medan ternyata juga tak jauh berbeda. Suatu kali pernah saya mendapati bocah laki-laki berpakaian rapi mengemis di depan rumah. Dengan suara lirih ia memohon belas kasihan agar diberi sedekah. Kebetulan saat itu adzan maghrib baru selesai berkumandang, setelah memberinya sedekah, saya mengantarnya hingga ke depan teras. Betapa terkejutnya saya karena di depan teras tersebut seorang pria sedang menunggunya. Pria muda dan sehat itu tersenyum ke arah saya seraya mengangguk kecil  pertanda ucapan terima kasih.


Pandangan saya tak bisa lepas dari mereka dan terus mengikuti langkah keduanya menuju halaman rumah tetangga. Ketika tiba di halaman tetangga saya dikejutkan lagi, karena seorang wanita dan anak perempuan berbusana muslim baru keluar dari rumah itu dan bergabung dengan mereka. Dari cara mereka bercengkrama, tampak sekali bahwa mereka adalah satu keluarga. Sungguh miris, dua orang ibu bapak yang masih muda dan sehat, menjadikan putra-putri mereka tameng untuk meminta belas kasihan orang.

Semenjak itu saya mulai bertanya-tanya, baikkah uang yang saya berikan kepada mereka? Meski niat itu ikhlas, karena Allah semata, namun apakah sedekah yang saya berikan kepada pengemis akan mendatangkan keberkahan khususnya bagi para pengemis itu sendiri?

Fakta di lapangan seringkali saya atau mungkin pembaca sekalian pernah mendengar dan mendapati pengemis yang menyalahgunakan uang belas kasih orang-orang kepada mereka. Terutama pengemis anak-anak. Banyak kabar mengatakan bahwa anak-anak kurus berwajah polos itu menghabiskan uang hasil mengemis untuk hal-hal yang tidak baik seperti berjudi hingga narkoba.

Lantas sebagai sesama manusia terlebih lagi sebagai umat muslim, bagaimana kita harus menyikapi fenomena sosial ini? Tentu kita semua setuju, bahwa apapun bentuknya, bersedekah merupakan perbuatan mulia asalkan niatnya tulus hanya mengharap ridha Allah semata. Saya teringat bagaimana Rasulullah SAW memperlakukan seorang pengemis pada zamannya.

Redaksinya kurang lebih seperti ini: Pada suatu hari saat Rasulullah sedang berkumpul bersama para sahabat, datanglah seorang pengemis untuk meminta-minta. Singkatnya Rasulullah meminta pengemis tersebut membawa cangkir, yakni satu-satunya harta yang dimiliki oleh pengemis tersebut. Rasulullah lalu melelang cangkir tersebut kepada para sahabat hingga sang pengemis mendapat uang sebesar dua dirham.

Dari uang itu, Rasulullah menyuruh pengemis tersebut membeli kebutuhannya serta kapak untuk mencari kayu dan kembali lagi setelah dua minggu. Dua minggu kemudian si pengemis kembali mendatangi Rasulullah dengan membawa uang sebanyak sepuluh dirham dari hasil menjual kayu yang ia kumpulkan. Kemudian Rasulullah Bersabda:

“Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat sesorang tidak bisa berusaha.“ (HR. Abu Daud).

Dari hadist tersebut saya memahami, ternyata memberi sedekah pada pengemis juga memiliki persyaratan. Apakah pengemis tersebut pantas untuk disedekahi? Dengan kata lain, kita harus lebih selektif jika ingin bersedekah kepada pengemis. Mungkin saja, pemenuhan persyaratan itulah yang akan mengundang keberkahan Allah SWT.

Namun pernahkah sahabat sekalian mendapati orang yang sesungguhnya memenuhi persyaratan yang dimaksud oleh Rasulullah SAW namun tetap memegang teguh prinsip tangan di atas lebih baik ketimbang tangan di bawah?

Pernah saya mendapati seorang kakek yang tetap menjajakan kerupuk meski dengan napas tersengal. Ia membawa ratusan bungkus kerupuk kulit (jangek) yang ia jajakan kepada para mahasiswa di kampus UMSU. Sedang di pekarangan kampus USU, seorang kakek dengan dua tongkat menjajakan balon keliling kampus. Berbeda di simpang Pondok Kelapa, terlihat seorang pemuda dengan langkah terseok-seok, namun ia lebih memilih berjualan Koran di lampu merah ketimbang mengemis.

Di waktu lain, pernah pula saya melihat seorang anak kecil menantang bahaya mengatur lalu lintas di persimpangan Marelan yang notabene padat kendaraan. Ia menggenggam sebilah bambu agar pengendara truk dan tronton dapat melihat dirinya sebagai ‘Polisi Gopek’.

Mereka adalah orang-orang kuat yang pantang menyerah dengan keadaan. Sahabat, ada baiknya, selain bersedekah kepada para pengemis, kita juga bersedekah kepada orang-orang luar biasa ini. Salah satunya dengan cara membayar dua kali lipat dagangan ataupun jasa yang mereka tawarkan.


Contoh-contoh seperti inilah yang seharusnya menjadi bahan renungan kita bersama sekaligus instropeksi diri. Siapa tahu, tanpa sadar, meski tidak pernah menjadi pengemis, namun rupanya kita bermental peminta-minta. Wallahua’lam bis shawab.

Penulis: Tika Dwi
Kutipan: "Random shoot. See what I thought"
Sumber: SeMedan.com

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *