Rumah Tjong A Fie Dari Luar Pagar, Saudagar Tionghoa Murah Hati

Tahun 1980-an ketika masih sekolah di Khalsa Medan. Sesekali kalau ada waktu senggang, saya pergi ke Stasiun Kereta Api Medan, Toko Buku Titi Gantung, Tugu Apollo Pajak Sambu dan Olympia Plaza. Kemudian pulangnya naik bus DAMRI dari Olympia menuju Kampung Lalang. Saat itu, dari jendela kaca bus yang melintasi Jalan Ahmad Yani No. 105 Medan, arsitektur Tjong A Fie Mansion terlihat megah dan unik. Kini, masuk ke rumah besar Tjong A Fie, tiketnya Rp. 35.000.
Rumah Tjong A Fie Dari Luar Pagar, Saudagar Tionghoa Murah Hati
Dari luar pagar Jalan Ahmad Yani No. 105 Medan. Tjong A Fie Mansion dua lantai menjadi museum dan cagar budaya. Rumah Tjong A Fie memiliki keunikan perpaduan antara gaya Eropa, India, Arab, Persia, Melayu dan Tionghoa. /Dok. Setiadi R. Saleh

Aneh binti ajaib, bolak-balik saya lewati rumah saudagar Tjong A Fie yang terkenal dermawan dan murah hati tersebut, tidak sekalipun saya masuk ke dalamnya. Ketika tahun 1990-an saya tinggalkan Kota Medan menuju Kota Bandung, kembali lagi ke Medan tahun 2010. Lagi-lagi Tjong A Fie Mansion masih belum membuat saya tertarik untuk masuk, menulis, dan memotret setiap tekstur dan ornamen indah perpaduan Tionghoa, Eropa, India, Arab, dan Melayu.


Mungkin karena perihal Tjong A Fie sudah terlalu banyak ditulis media, pelancong dan para blogger Medan. Barangkali penting, barangkali juga tidak bagi saya menuliskan kembali tentang Tjong A Fie. Sehingga saya berpikir tidak ada info baru dan sudah pasti terjadi pengulangan.
Rumah Tjong A Fie Dari Luar Pagar, Saudagar Tionghoa Murah Hati
Plang Profil Tjong A Fie di depan museum. /Dok. SeMedan.com

Tjong A Fie sebagaimana yang tertulis dari sejumlah literatur buku dan referensi online. Profil dan kepribadian Tjong A Fie mengarah kepada dua hal yaitu: Pertama, Tjong A Fie seorang Tionghoa yang sukses membangun bisnis besar di bidang perkebunan di Sumatera Timur (kini Sumut). Kedua, Tjong A Fie adalah simbol penyatuan elemen budaya, karakter dan manusia dari berbagai suku bangsa seperti Eropa, India, Arab, Melayu, dan Tionghoa. Tidak heran Tjong A Fie sangat dihormati dan disegani.


Tjong A Fie merantau ke Medan sekitar tahun 1878. Waktu itu, usianya baru 18 tahun. Tjong A Fie memiliki abang kandung bernama Tjong Yong Hian yang sudah lebih dulu datang ke Medan. Dua bersaudara kandung ini sama-sama memiliki jiwa dermawan. Keduanya pun tidak suka candu madat, judi dan wanita penghibur. Saking baiknya Tjong A Fie oleh Sultan Deli diberi kehormatan untuk menjabat penasihat dewan kota di bidang kebudayaan.

Barangkali akan sangat sulit menemukan tokoh Tionghoa di Kota Medan sekarang ini seperti pribadi Tjong A Fie dan Tjong Yong Hian, kaya raya lagi murah hati.

Baca juga:
Mengenal Tjong Yong Hian, Abang Kandung Tjong A Fie
Taman Kebun Bunga Medan, Museum Tjong Yong Hian
Jembatan Kebajikan, The Virtuous Bridge
Mesjid Lama, Mesjid Bengkok Medan

Penulis: Setiadi R. Saleh
Kutipan Favorit: "Seruan Sanubari"
Sumber: SeMedan.com

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *