M. Nasir, “Langgam Keramat Pak Dogol, Lagak Bodoh Tapi Bersengat”

Nama M. Nasir bagi khalayak Malaysia bukan sesuatu yang asing. Ia disebut legenda yang hidup dan bergelar sifu (guru besar) di bidang seni musik, aktor, seni pertunjukan, pelukis, dan peraih penghargaan Doktor Falsafah dalam bidang Pengurusan Industri Kreatif dari Universiti Utara Malaysia (UUM). Ia juga mendapat pengiktirafan dari negara Malaysia dengan gelaran “Datuk.”
M. Nasir, “Langgam Keramat Pak Dogol, Lagak Bodoh Tapi Bersengat”
Langgam Pak Dogo (Dogol). /Dok. Internet

Nama lengkap Datuk M. Nasir adalah Mohamad Nasir bin Mohamad, lahir pada Hari Minggu, 4 Juli 1957 di Singapura. Ia kemudian menetap di Malaysia. Berkiprah di industri musik sejak tahun 1970-an. Lebih dari 500 lagu telah ia ciptakan. Beliau komposer, produser sekaligus mentor bagi artis-artis ternama Malaysia.

Pembawaan M. Nasir yang rendah hati, murah senyum, cerdas, jenaka, suara khas merdu serta elok pula wajahnya membuat orang mudah sekali jatuh hati kepadanya. Lihatlah bagaimana penampilan M. Nasir pada “Langgam Pak Dogo.” Dari sisi penampilan, ia terkesan tak berdandan (minim make-up), baju atau kostum sederhana, tidak memakai celak, kalung, gelang, asesoris lainnya sebagaimana gaya artis umumnya. Kumis  dan jenggot ia biarkan tumbuh rimbun tersusun di sekitar dagu dan tubir bibir. Dan usianya pun nampak tak ranum lagi, sekitar 58 tahun. Tetapi, seperti kata pepatah Melayu, “semakin tua semakin bersantan.”

Kemudian, di atas panggung, ia berdiri sendiri dengan gitar tanpa iringan penari latar atau layar lebar yang umumnya dipakai sebagai ilustrasi pendukung tema dari sebuah lagu. Artis-artis pendukung vokal dan band ditaruh di pucuk sudut. Gagasan ini sangat cemerlang sehingga sorot mata penonton hanya tertuju kepada M. Nasir.


Dari awal sampai akhir, penonton tampak begitu masyuk ikut bernyanyi, sesekali ada canda-tawa dan sangat menghibur. Nyaris, tidak kelihatan satu pun penonton memotret atau mengabadikan konser melalui handycam dan ponsel pintar. Bandingkan dengan gaya penonton konser musik di Indonesia yang umumnya sibuk mengacungkan ponsel, smartphones merekam konser. Parahnya lagi, mereka menonton dari bingkai kecil layar ponsel pintar, padahal saat bersamaan konser sedang berlangsung.

Saat membawakan “Langgam Pak Dogo,” M. Nasir sungguh mewakili apa yang disebut pepatah bijak “apa adanya” dan “adanya apa.”  Ia tidak berlebihan dalam penampilan, suaranya pun merdu tapi tak sendu mendayu, tak ada kesan cengeng. Intonasi dan diftong-bunyi vokal sangat jelas dan rapi sehingga kata-kata terasa bernyawa dan bertuah.

Lebih jauh, apabila mendengarkan irama lagu dan meresapi lirik “Langgam Pak Dogo,” hati kita akan hancur sebagaimana hancurnya garam di dalam air, seakan-akan jiwa akan terbang merengkuh buih-buih mimpi surgawi. Dari mana M. Nasir memperoleh kata-kata magis tersebut sebagaimana tertuang dalam lirik “Langgam Pak Dogo,” apa yang ia baca, apa yang ia santap, apa yang ia lakukan sehari-hari, siapa gurunya, dan sejumput pertanyaan lain yang menimbulkan percik permenungan.

Tentu sangat musykil bagi seorang M. Nasir tatkala menyusun untaian syair, lirik, dan lagu Pak Dogo dalam keadaan meracau dan mengigau. Pasti ada sesuatu tirakat untuk menembus mahligai hakikat. Bagaimana bisa syair bernilai tinggi dibawakan dalam suasana riang, tak berdentam-dentum, sesekali diselipi tawa kecil sehingga kekuatan langgam Pak Dogo tidak hilang arah, sungguh bikin kepayang.

Adapun syair dan lirik “Langgam Pak Dogo” adalah sebagai berikut:

rindu menikam dek cinta Sita
hilang bekas hilang sisa amarah
bongkar akar bongkar mimpi Suralaya
datang bingung berpaluan diambang yuda
ajak menung bawah panji wilmana
apa hikmah tersemat di balik perintah!

temu hulu hilir menyusur
adat hidup temukan mati
jangan tuan terus masygul (duk nengu sugul )
adat wira harus tahan uji

ae eeeiii

ya kalau begitu aku berjanji
hadapan temanku yang berperkerti tinggi
titian takdir seruncing mana pun ku seberangi
di mulut naga gemala sakti terkunci
kan ku sambar ku rampas jadikan bukti

Reff:

langgam Dogol langgam keramat
bisik-bisik dalam kelambu
lagak bodoh tapi bersengat
beler ngelik (sambil elak ) dia main siku

riwayat bermula dari dahulu
pandang belakang tersangatlah jauh
Perlu menyilang irama dengan lagu
kapal belayar usah dilabuhkan sauh !
asal debu pasti pulang ke debu
dari tegap bertimpuh baik rebah merempuh

bersambunglah litar (petir) berdentum dentam
Hujan tak turun laut berlimpahan
ghalit (asyik)merancang dendam seribu malam
koho sie koho bergando rawe
(Siang menerang semakin berganda rawan)

aaee eeeiii

kerongsang terlekat kerana peniti
hujung pelangi pula sebabkan igauan
tidak terlintas nyawa dipertaruhkan
dikandung badan !
desaat berangan terlepaslah habuan
ikan tak dapat umpan pula hilang

eeeieeei

langgam Dogol langgam keramat
bisik-bisik dalam kelambu
lagak bodoh tapi bersengat
beler ngelik (sambil mengelak ) dia main siku
aeeii...aeeiiiii

Terasa sekali, ada tafsir tersembunyi di sebalik “Langgam Pak Dogo.” Dan pada saat konser alam muzik 2009, “Langgam Pak Dogo” dinyanyikan lebih lambat dan lebih tenang, sesekali diselingi tawa kecil.  Tumpahan energi M. Nasir mengalir kepada emosi penonton yang tekun menyimak hikmah dan berusaha menyibak tabir makna langgam keramat Pak Dogo.


Jika kita mendengarkan versi aslinya, “Langgam Pak Dogo” liriknya lebih panjang dan denyut irama (beat)-nya lebih rancak (dinamis). Kemudian setiap lagu disisipkan percakapan antara Wak Long dan Pak Dogo. “Langgam Pak Dogo” menurut M. Nasir terilhami dari kisah perang besar Mahabrata yang dibuat dengan nuansa Kelantan yang sangat terpengaruh dari Siam, India dan Arab. Latar belakangnya perang antara Pandawa dan Kurawa (dari Mahabrata) dengan pesan yang mendasar tentang “kekuatan dan kecemburuan.

Musik M. Nasir sangat sederhana jika kita memandangnya dari sisi permukaannya saja. Tetapi, manakala sudah menyelaminya lebih dalam, ada begitu banyak penafsiran.

Akhirul kalam, dalam “Langgam Keramat Pak Dogol, Lagak Bodoh Tapi Bersengat” dapat kita petik pelajaran, terkadang begitulah penilaian awam memandang Melayu, pemalas, bodoh (dogol), dan tak tau apa-apa. Padahal di sebalik itu, Melayu sangatlah bersengat, luas, tak habis-habis kalau dikupas. Riwayat bermula dari dahulu, asal debu pasti pulang ke debu. Asal Melayu pasti pulang ke Melayu.

Penulis: Setiadi R. Saleh
Kutipan Favorit: "Seruan Sanubari"
Sumber: SeMedan.com

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *