Hari Buruh Sedunia, Peta Ekonomi Dunia Terus Berubah!

Hari buruh sedunia (labour Day) yang jatuh pada Hari Minggu, 1 Mei 2016 akan kembali diramaikan dengan isu tuntutan upah minimum regional dan hentikan kriminalisasi terhadap buruh. Mengapa buruh menjadi isu yang mendunia? Sebab, sampai sekarang neo kapitalisme dan neo liberalisme masih berjaya dan menganggap buruh adalah “organ” yang bisa ditekan sebagaimana budak belian. Tetapi, apakah benar kondisinya selalu demikian? Di mana majikan selalu memeras tenaga bawahan habis-habisan, mati-matian sampai di luar batas nalar?
Hari Buruh Sedunia 2016, Peta Ekonomi Dunia Terus Berubah!
May Day Ilustrasi. /Dok. www.holtlaborlibrary.org

Menurut Wikipedia, buruh (pekerja, worker, laborer, tenaga kerja atau karyawan) pada dasarnya manusia yang menggunakan tenaga untuk mendapatkan pendapatan uang maupun bentuk lainya kepada Pemberi Kerja (pengusaha) atau majikan.

Definisi buruh yang dipahami awam masih sebatas pekerja pabrik yang mengenakan seragam. Bekerja sesuai shift kerja dengan jam yang sudah ditentukan dan standar gaji yang disesuaikan. Padahal buruh itu luas sekali maknanya.


Dalam hubungan perusahaan dan buruh sampai kapanpun tidak akan bertemu benang merahnya. Sebab, menurut pengusaha mereka sudah membayar sesuai hitungan matematis untung-rugi perusahaan. Sementara menurut karyawan, gaji yang mereka terima hanya pas untuk makan dan bertahan hidup sehari-hari ditambah utang dan kasbon. Pertanyaanya, mengapa perusahaan harus membayar rendah, jika karyawannya harus terus berutang dan kasbon.

Kemudian, dalam banyak pemberitaan buruh selalu digambarkan susah dan lusuh. Coba buka kembali arsip-arsip demo buruh dari tahun ke tahun hidup buruh sebenarnya meningkat. Punya sepeda motor, smartphones, rumah, dan seterusnya. Tetapi, jumlah ini hanya satu-dua orang saja dan tidak bisa dijadikan standar patokan kemajuan tingkatan hidup para buruh di seluruh Indonesia.

Keprihatinan buruh ditambah lagi dengan adanya sistem perjanjian kontrak kerja setahun-dua tahun yang diterapkan oleh perusahaan. Hal ini merugikan karyawan karena karyawan tidak tercatat sebagai karyawan tetap dan barangkali ketika pensiun dini tidak diberikan pesangon.

Nasib dan takdir buruh mungkin akan berujung absurd. Sebab, peta ekonomi di seluruh dunia terus berubah. Industri-industri besar gulung tikar. Muncul dan tumbuh ekonomi kreatif berbasis bisnis online yang terus menjamur di seluruh dunia. Jalur distribusi yang memegang peran kuat daripada produksi (produsen).


Dalam tingkat persaingan bisnis. Inilah saatnya, di mana yang cepat akan memakan yang besar. Industri kreatif yang mampu menciptakan ceruk pasar tersendiri akan bisa bertahan hidup. Sebaliknya, industri besar yang menggurita dan bergerak lamban akan ditinggalkan.

Seyogianya hari buruh sedunia 2016 menjadi hari peringatan bagi siapa yang masih menjadi karyawan bahwa kerja di manapun tidak ada yang “aman-nyaman.” Perusahaan bisa sewaktu kolaps, ambruk! Sekarang saatnya untuk berwirausaha. Meski tidak punya penghasilan tetap,  terpenting tetap berpenghasilan.

Penulis: Setiadi R. Saleh
Kutipan Favorit: "Seruan Sanubari"
Sumber: SeMedan.com - Seputar Medan

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *