Profesi Pemangkas Rambut, Menempa Mahkota di Atas Kepala

Profesi pemangkas rambut tak ubahnya “penempa” mahkota di atas kepala. Rambut seperti ungkapan lama merupakan “mahkota jiwa” yang tumbuh pada kulit kepala. Dahulu mitosnya, sehelai rambut dapat mengubah nasib seseorang menjadi baik atau buruk. Itu sebabnya, ada kepercayaan yang memantangkan membuang rambut sembarangan, terutama pada malam hari karena khawatir menjadi sasaran ilmu hitam, gaib, dan klenik.
Profesi Pemangkas Rambut, Menempa Mahkota di Atas Kepala
Setiap hari kebanjiran order. Mantan karyawan yang memilih berprofesi sebagai pemangkas rambut anak-anak, remaja dan dewasa khususnya potong rambut laki-laki. Berpenghasilan di atas rata-rata pegawai biasa. Bisnis. /Dok. Setiadi R. Saleh

Bentuk rambut yang cocok di kepala membuat seseorang seakan sedang mengenakan mahkota. Karena itu, mencari model yang pas dan sesuai dengan bentuk wajah agar seseorang tampil menarik dari biasanya adalah tugas utama seorang pemangkas rambut.

Dan entah ada hubungan, entah tidak, ternyata bentuk potongan rambut dapat memengaruhi psikologis seseorang. Timbul rasa percaya diri atau bisa juga “serba salah” lantaran potongan rambut tidak sesuai kemauan hati. Inilah alasan mengapa tidak sembarangan orang mau menyerahkan rambutnya untuk dipangkas jika bukan kepada orang yang tepat.


Di Kota Medan kalau mau dipangkas ada istilah “satu sisir atau satu senti.” Maksudnya, cukuran rambut botak tetapi tidak licin, tidak plontos, tidak cepak. Bayangkanlah itu seperti apa dan bagaimana bentuk rambutnya.

Sekalipun konsumen minta botak licin plontos, seorang pemangkas rambut harus jeli dan telaten sehingga ketika selesai dipangkas, pelanggan jadi nampak keren dan gagah. Bukan sebaliknya tampak culun seperti bocah kemarin sore (yesterday afternoon boy).

Sedangkan istilah dipangkas “satu sisir atau satu senti” adalah ukuran berdasarkan “mata” dari alat cukuran rambut yang mirip cukuran bulu domba. Sebenarnya yang benar bukan dalam ukuran satu sisir atau satu sentimeter tetapi dalam milimeter. Jadi, lebih halus lagi dan bisa disetél, disesuaikan dengan permintaan pelanggan.

Bagian tersulit memangkas rambut justru bukan terletak pada jenis rambut yang lurus, keriting, ikal, kribo melainkan menyesuaikan dengan bentuk kepala dan wajah. Sebab, kepala dan wajah setiap orang berbeda, ada yang tirus (runcing), oval (lonjong), bundar (bulat), dan péyang. Selain wajah, tipe dan jenis rambut orang pun beda-beda. Ada yang mudah disisir, jigrak (tegak ke atas), dan ada pula rambut yang lebih bagus klimis basah atau kering. Pendek kata, tukang pangkas bisa “melihat” isi hati pelanggan.  (Baca juga: Kamus Istilah Bahasa Medan, Lengkap Terbaru Unik Lucu Bagian 2).

Kadang-kadang di tempat pangkas rambut khusus anak muda mereka punya istilah sendiri seperti undercuts, sasak, punk, pangkas motif (bentuk rambut yang bisa dibikin bentuk macam-macam), dan model sesuai idola K-Pop atau model rambut vokalis band-band ternama Indonesia dan mancanegara.

Sementara di tempat pangkas rambut orang-orangtua, cukup dengan mengatakan, “Wak tolong dirapikan saja.” Sudah pahamlah Uwak itu akan diapakan rambut kita dan terima bersih tanpa perlu arahan khusus. Terlebih pada Hari Jum’at, biasanya banyak orangtua yang pangkas rambut. Sunnah Nabi Muhammad saw, memang demikian adanya, “potong rambut, cukur kumis di Hari Jum’at berpahala.”
Profesi Pemangkas Rambut, Menempa Mahkota di Atas Kepala
Sebuah tempat pangkas di Setia Luhur Medan. Sehari-hari melayani kurang lebih 100 pelanggan. /Dok. Setiadi R. Saleh

Dan entah kenapa kalau istilah pangkas rambut identik dengan laki-laki (barbershop). Sementara salon rambut identik dengan perempuan. Padahal keduanya melakukan profesi yang kurang lebih sama saja. Sama-sama menggunting dan menata rambut (hairstyle dan haircut). Tarifnya pun hampir sama, sekitaran 15.000-25.000.


Saat ini layanan pangkas rambut yang dilirik konsumen seperti, pangkas rapi bersih dan modis. Handuk sekali pakai ganti, mata pisau cukur sekali pakai ganti baru, bedak wangi dan sabun pakai air hangat, ruangan AC, dan seterusnya. Pangkas-pangkas konvensional ala DPR (di bawah pohon rindang) atau pangkas bersama kawan ramai-ramai sudah jarang diminati.

Pada musim liburan, hari besar perayaan, dan tahun ajaran baru, tempat pangkas biasanya diserbu pelanggan. Bagi tempat-tempat pangkas yang sudah mendapatkan pelanggan tetap. Sehari-hari bisa mencukur sampai 100 orang dikali Rp. 15.000/kepala. Kira-kira omset sekitar Rp. 1.500.000/hari. Tinggal dijumlah berapa penghasilan untuk perbulan. Inilah mengapa sebabnya banyak orang yang mulai tergiur terjun ke bisnis pangkas rambut. Sebab, omset yang dihasilkan setara dengan “nilai mahkota.”

Penulis: Setiadi R. Saleh
Kutipan Favorit: "Seruan Sanubari"
Sumber: SeMedan.com - Seputar Medan

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *