Tahun Baru Imlek Monyet Api 2567, Semua Tionghoa Berbahagia

Tahun Baru Imlek Monyet Api 2567 yang jatuh tanggal 8 Februari 2016 Masehi disambut gembira di seluruh dunia. Pemandangan serupa akan terjadi di Kota Medan yang memiliki populasi masyarakat Tionghoa terbesar di Indonesia dengan penggunaan bahasa aktif, Mandarin dan Hokkian, dan pembaca Surat Kabar Mandarin Hao Bao (Kabar Baik).
Selamat Tahun Baru Imlek
Selamat Tahun Baru Imlek. /Dok. Koleksi Bobo Kidnesia

Dahulu perayaan Imlek tidak seperti sekarang yang bebas dirayakan di manapun dan oleh siapa pun. Pasang-surut boleh-tidaknya perayaan Imlek di Indonesia terjadi semasa periode pemerintahan Presiden Soekarno dan Soeharto (1968-1999). Barulah semasa pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) masyarakat keturunan Tionghoa menerima keputusan kebebasan untuk merayakan Imlek (2000).


Tahun Baru Imlek adalah perayaan penting bagi orang Tionghoa. Sebab, Imlek pertanda dimulainya hari pertama, bulan pertama dalam penanggalan Tionghoa, dan berakhir di hari yang kelima belas dengan sebutan Cap Go Meh. Umumnya Imlek jatuh antara tanggal 21 Januari sampai dengan 20 Februari setiap tahunnya.
Maha Vihara Maitreya
Maha Vihara Maitreya. /Dok. SeMedan.com

Semua orang Tionghoa berbahagia merayakan Imlek, termasuk orang-orang Tionghoa yang beragama Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Khonghucu.  Perayaan Imlek menjadi sarana kesempatan berjumpa keluarga dan handai tolan.

Jadi, Imlek bukan perayaan agama Khonghucu sebagaimana yang selama ini diyakini, melainkan perayaan pergantian tahun (kalender) berdasarkan peredaran bulan (komariah). Semisal tahun 2015 disebut tahun kambing, tahun 2016 disebut tahun monyet api. Sedangkan tahun 2017 nanti adalah tahun ayam.

Kemudian, astrologi Tiongkok disimbolkan dengan hewan. Sifat-sifat hewan inilah yang diproyeksikan merepresentasikan keadaan perubahan alam semesta (iklim dan cuaca), bisnis, sifat manusia, peruntungan, jodoh, kematian, dan lain sebagainya.

Bagi masyarakat Tionghoa yang menganut paham Taoisme (Khonghucu). Imlek dirayakan dengan melaksanakan pemujaan kepada leluhur, membersihkan dewa-dewa beserta altarnya, membersihkan lingwei (papan kayu bertuliskan nama leluhur), Ceng Beng berziarah ke leluhur, sembahyang king thi kong dilengkapi dengan sesajian mulai dari teh, air, bunga, manisan, buah-buahan dan disertai peralatan sembahyang seperti dupa, hio dan lilin.

Bagi Tionghoa Muslim merayakan Imlek bersama keluarga. Sedangkan bagi yang menganut aliran Khonghucu dan Buddha merayakan di vihara atau kelenteng. Adapun riwayat dan sejarah adanya Imlek sebenarnya adalah Hari Raya Musim Semi (hari raya kaum petani). Dahulu, Tiongkok merupakan lahan subur pertanian dan sesuai untuk bercocok tanam segala jenis macam sayur-sayuran.

Cerita legenda menyebutkan, Imlek dirayakan karena kemenangan kaum petani melawan raksasa jahat. Dahulu ada Nián (年) seekor raksasa pemakan manusia, pemakan hasil panen, pemakan hasil pertanian dan  ternak, semua dimakan.

Suatu hari penduduk melihat Nián ketakutan ketika berjumpa dengan orang suci berpakaian warna merah. Penduduk setempat kemudian mempercayai warna merah, suara keras petasan, dan suara berisik dari benda-benda yang dipukulkan membuat Nián ketakutan. Dari sinilah Imlek bermula.


Ucapan yang sering diucapkan saat merayakan Imlek antara lain:

  • Kiong hi huat cai (Bahasa Hokkian)
  • Kiong hi fat choi (Bahasa Hakka)
  • Xīnnián kuàilè (Selamat Tahun Baru)
  • Gōngxǐ fācái (Bahasa Mandarin)
  • Kung hei fat choi (Bahasa Kantonis)

Lalu musim panen dirayakan oleh masyarakat sebagai ungkapan kegembiraan dengan mengucapkan Gong Xi Fa Cai yang artinya selamat dan semoga berlimpah rezeki. Adapun tradisi Imlek yang sering kita jumpai antara lain: makan bersama dengan segenap keluarga besar, pertunjukan liang liong (naga-nagaan Cina yang dimainkan oleh sejumlah orang) dan barongsai (singa melompat), bagi-bagi angpao (hung bao). Angpao tidak akan diberikan kalau tidak mengucapkan ucapan selamat tahun baru kepada orang yang lebih tua.

Pernak-pernik Imlek yang sering kita jumpai seperti lampion, kue keranjang, jeruk (chi zhe’) dianggap buah rezeki. Kuning dan merah adalah warna dominan saat perayaan Imlek.

Gong Xi Fa Cai “Selamat Tahun Baru, Semoga Sejahtera, dan Terbuka Pintu Gerbang Kemakmuran.

Baca juga:
Sejarah Tarian Barongsai Pada Saat Perayaan Tahun Baru Imlek
Hao Bao Daily, Koran Berbahasa Mandarin Terbit di Tanah Deli

Penulis: Setiadi R. Saleh
Kutipan Favorit: "Seruan Sanubari"
Sumber: SeMedan.com - Seputar Medan

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *