Hati-Hati Banyak ‘Ular’ di Pasar Ular, Pajak Sambu Medan

Pasar Ular berada di seberang prasasti NICA dan eks lokalisasi Belinun. Orang Medan sebagian besar menyebut pasar dengan pajak. Namun, untuk “pajak ular” menyebutnya dengan “pasar ular.” Tak usahlah diperdebatkan, terpenting sama-sama paham bahwa di Kota Medan, pajak berarti “pasar tempat orang jualan.” Arti pasar sendiri adalah “jalan” dan bisa juga pajak tempat berjualan. Jangan dikaji lagi nanti membelit macam ular, bikin pening saja, absurd menjauhkan maksud. (Baca juga: Kamus Istilah Bahasa Medan, Lengkap Terbaru Unik Lucu Bagian 2).
Sore hari lalu-lintas ramai sekali di Jalan Sutomo dan Jalan Veteran
Sore hari lalu-lintas ramai sekali di Jalan Sutomo dan Jalan Veteran. Pengendara sepeda motor menyempatkan melihat-lihat barang dagangan di lapak Pasar Ular. Aneka jenis barang dijual mulai yang baru, antik sampai bekas. /Dok. Setiadi R. Saleh

Jangan datang ke pasar ular pada pagi hari, belum ada lapak yang tergelar. Datanglah antara jam 3 petang sampai jam 6 sore. Orang ramai bertransaksi, lalu-lalang, tawar menawar, dan rata-rata pengendara yang lewat melirik benda yang digelar di pasar ular.
Pedagang di pasar ular khusus menjual charger ponsel
Pedagang di pasar ular khusus menjual charger ponsel. /Dok. Setiadi R. Saleh

Orang Medan sendiri, kalau dibilang pasar ular banyak yang tidak familiar. Tetapi, kalau disebutkan Pajak Sambu, orang SeMedan pasti banyak yang tau. Pasar ular tidak berada di dalam Pajak Sambu. Melainkan, berada di antara pertemuan Jalan Sutomo dan Jalan Bali (sekarang Jalan Veteran). Sementara Pajak Sambu berada di Jalan Riau. Nama Sambu merujuk kepada nama sebuah Pulau Sambu yang ada di Kepulauan Riau (Kepri).

Sebuah lapak loak di Pasar Ular menjual barang dagangan “campur aduk”
Sebuah lapak loak di Pasar Ular menjual barang dagangan “campur aduk” mulai dari batu akik, uang koin lama, jam tangan, dompet, dan handphone. /Dok. Setiadi R. Saleh

Tidak ada satu literatur atau dokumentasi digital manapun yang membahas ihwal kapan tepatnya pasar ular berdiri dan eksis sampai kini. Tetapi, berdasarkan cerita mulut, pasar ular ada sejak Pajak Sambu ada. Bayangkanlah sudah berapa lama hingga tahun bertukar kurun, Pasar Ular masih saja ramai didatangi orang berduyun.

Adapun indeks barang yang dijual di pasar ular, mulai dari kategori kuno, antik, unik, baru, bekas, rusak sebagai berikut:

  • Buku
  • Peniti
  • Kancing baju
  • Gerendel pintu
  • Setrika baju
  • Sepatu
  • Alat-alat listrik
  • Kipas angin 
  • Charger HP
  • Kamera foto analog
  • Mesin tik
  • Kaset lama
  • Radio lama
  • Terompet 
  • Mangkok antik racun 
  • Prangko
  • Koin kuno
  • Piringan hitam
  • Gramofon
  • Handphone candybar, qwerty, smartphone 
  • Teropong bintang 
  • Tape recorder
  • Pulpen
  • Bola lampu seken
  • Samurai dan senjata tajam
  • Batu akik
  • Powerbank
  • Mancis pemantik
  • Cincin perak
  • Jam tangan
  • CD 
  • DVD player
  • Televisi layar cembung
  • Laptop

Dan teramat banyak lagi nama benda yang bisa disebutkan. Semua ada di pasar ular. Betul-betul seru, puas!

Penting dicatat, hati-hati membeli barang di pasar ular. Jangan tergiur rayuan maut pedagang di pasar ular. Teliti sebelum membeli, jangan sampai setibanya di rumah barang yang dibeli tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Hunting barang antik, unik, dan kuno, satu di antaranya adalah di Pasar Ular. Sayangnya, pasar ular tidak menjadi ikon local market di Kota Medan. Padahal pasar ular dapat menjadi destinasi wisata unik khas Kota Medan. Selain berbelanja, orang bisa bernostalgia terbang ke masa silam melihat barang-barang zaman dahulu yang sampai kini rupanya masih ada yang berminat untuk dikoleksi atau diperjual-belikan kembali.

Satu hal yang bikin heran, kalau diperhatikan baik-baik. Sebenarnya yang dijual itu hampir 90% barang rongsokan yang sudah tidak terpakai alias sampah. Tetapi, aneh binti ajaib ada saja yang tertarik untuk membeli.
Tawar-menawar harga bukan hanya terjadi antara penjual dan pembeli
Tawar-menawar harga bukan hanya terjadi antara penjual dan pembeli. Tetapi juga sama-sama penjual bisa saling tawar-menawar, seru dan lucu. /Dok. Setiadi R. Saleh

Ingat, kalau ke pasar ular jangan parkir sepeda motor sembarangan. Entah di mana juru parkirnya. Silap mata, bisa “lewong” kereta awak. Cari tempat parkir yang aman dekat bank atau pertokoan yang jelas-jelas ada tukang parkirnya.

Hati-hati sekali banyak ‘ular’ di pasar ular. Bukan ular sungguhan melainkan tipu-menipu seperti ular. Akal-mengakali licik seperti ular. Itulah sebabnya dinamakan pasar ular.


Anggap sudah biasa dan sering ke pasar ular, walaupun baru pertama kali. Dengan demikian, abang-abang penjual tak canggung dan bisa diajak ketawa-tawa. Bayangkan, barang sampah saja bisa berharga dan kenapa demikian mahal seperti sepatu butut, dompet bau, dan bola lampu bekas pakai dan lain sebagainya.

Ilmu yang harus dipelajari dari pasar ular adalah teliti dan tak usah dibawa kali gaya intelek atau orang terpelajar. Bawa gaya pasaran, tawar-menawar sepuasnya, cocok kau rasanya, angkat!

Baca jugaRobohnya Prasasti NICA dan Lokalisasi Belinun Medan Area

Penulis: Setiadi R. Saleh
Kutipan Favorit: "Seruan Sanubari"
Sumber: SeMedan.com - Seputar Medan

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *