Sejarah Makam Raja Sidabutar, Pulau Samosir

HORAS... Di pulau Samosir terdapat situs peninggalan sejarah makam Raja Sidabutar, makam ini terbuat dari batu alam berukir kepala manusia dan beberapa makam kerabat raja di sekitarnya. Keunikan situs sejarah ini makam tidak tertanam di dalam tanah seperti makam umumnya, tetapi berada diatas permukaan tanah. Makam atau kuburan batu berada di desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Pulau Samosir.
Makam Raja Sidabutar
Makam Raja Sidabutar. /Dok. Lindkedin.com

Sebelum masuk ke lokasi makam pengunjung diharuskan memakai kain ulos (Kain adat Batak Toba), dan anda akan ditemani seorang pemandu wisata yang akan menemani anda selama di situs tersebut sambil menceritakan sejarah raja-raja yang di kuburkan di area makam ini.

Didalam kepercayaan masyarkat Batak, kesaktian Raja Sidabutar terdapat pada rambut gimbalnya, rambut tidak boleh dipotong, kalau rambut itu lepas, bukan di buang tapi diikat diujung tombak, namanya Tunggal Pangaluan dan disimpan dalam Museum Rumah Batak.

Diatas makam, anda akan melihat melihat sebuah selendang dengan warna putih, merah dan hitam. Ketiga warna menjadi simbol spiritual. Putih, warna surga (kesucian). Merah, warna bumi (ketenangan). Hitam, warna bawah tanah (kematian).

Ada 3 raja yang dimakamkan di komplek ini, raja pertama dan kedua masih belum memeluk agama, tetapi menganut kepercayaan animisme yang di kenal dengan Parmalin. Didalam adat batak toba, animisme, mempercayai kekuatan magic itu kayu dan batu. Jadi kayu diberdayakan menjadi rumah (Museum Rumah Batak) dan meninggal si pemilik rumah di kubur di makam batu.


Karakter Raja Batak, sebelum meninggal dia telah membuat kuburan dan tidak pernah jauh dari rumah hidup dengan rumah matinya, di halaman rumah paling jauh di ladang. Pertama kali makam ini dibuka, makam sempat tertimbun tanah dengan upacara adat selama dua minggu di pestakan dengan potong kuda, potong kerbau. Sebab raja pertama dan kedua walaupun animisme tidak memelihara babi dan makan babi.

Baca juga:
Rumah Pengasingan Soekarno di Parapat
Pulau Samosir, Permata di Tengah Danau Toba
Menara Pandang Tele, Menikmati Panorama Danau Toba dari Ketinggian

Raja ketiga bernama Solompoan Sidabutar sudah beragama Kristen setelah kedatangan seorang misionaris dari Eropa yang bernama Nomensen. Ludwig Ingwer Nommensen (6 Februari 1834 – 23 Mei 1918) merupakan misionaris dari Jerman yang menyebarkan agama Kristen di tanah Batak. Nomensen datang ke tanah Batak sekitar tahun 1862.

Bila diperhatikan salah satu bangunan makam, anda akan melihat ornamen dua ekor cicak menghadap ke empat buah payudara. Arti dari ornamen Cicak, merupakan lambang bahwa orang batak harus bisa hidup seperti cicak, mudah beradaptasi dan dapat menempel dimana-mana. Dimana ada cicak ada orang Batak. Sementara ornamen empat payudara merupakan simbol orang Batak harus memiliki banyak anak dan mempunyai istri yang Tomok (subur).

Keluarga Batak dahulu memiliki banyak anak karena dahulu orang batak mempercayai bahwa semakin banyak anak akan semakin banyak rezeki. Arti dari keempat payudara tersebut adalah kemana pun orang batak pergi, ia tidak akan melupakan ibunya/istrinya, termasuk tanah kelahirannya.
Dua ekor cicak dan empat payudara
Dua ekor cicak dan empat payudara. /Dok. SeMedan.com

Untuk lebih jelasnya anda dapat melihat video dibawah ini pada saat penulis mengunjungi situs Sejarah Makam Raja Sidabutar dan cerita kisah kedatangan seorang pemuda beragama islam bernama Muhammad Said orang Batak beragama Islam dari Aceh Gayo.

Sejarah Makam Raja Sidabutar di Tomok, Pulau Samosir



Halaman 7


Penulis: M. Sahidin
Sumber: SeMedan.com - Seputar Medan

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *