Kota Medan Metropolitan, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)

Kota Medan metropolitan adalah julukan kota metropolis yang dinamis berkembang menjadi kota kosmopolitan. Saat ini, Medan sebagai kota tumbuh sangat pesat. Gedung-gedung pencakar langit dan pusat bisnis bermunculan di sejumlah lokasi strategis. Jalan tol penghubung antar kota dibuka dan infrastruktur dipercepat. Investor berinvestasi, niaga berputar, imigran domestik dan ekspatriat berdatangan.
Crane di sebuah gedung pencakar langit di lokasi "kepala naga" (lokasi strategis) untuk berbisnis
Crane di sebuah gedung pencakar langit di lokasi "kepala naga" (lokasi strategis) untuk berbisnis. /Dok. Setiadi R. Saleh

Medan bukan lagi kota alternatif setelah Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Yogya. Melainkan menjadi kota tujuan utama. Menawarkan sejuta mimpi dan senyum kebahagiaan baru.

Ketika akhir 2015 silam ramai bergulir pemberlakuan MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Kota Medan sama sekali tidak terpengaruh, tampak lebih siap dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Apalagi mengingat, Kota Medan berdekatan dengan wilayah Asean yakni Malaysia dan Singapura. Jadi, MEA bukanlah “benda” baru bagi masyarakat di Kota Medan. MEA sendiri sudah diwacanakan 10 tahun silam.


Menghadapi Pasar Bebas Asia Tenggara atau lebih dikenal dengan Masyarakat Ekonomi Asean berarti menghadapi serbuan produk asing, apapun itu. Tetapi yang paling rentan adalah bukan produknya sendiri melainkan tenaga kerja asing yang bebas bekerja di Kota Medan khususnya, dan negara Indonesia pada umumnya. Kendati demikian, di balik kekhawatiran tersebut terbuka peluang untuk melejitkan produk Indonesia juga sangat besar. Artinya, siap tidak siap MEA akan segera datang menghampiri.

Kalau dirunut jauh sejarah ke belakang. Sesungguhnya tidak ada bedanya antara Kota Medan sekarang dengan Kota Medan zaman dahulu. Indikatornya, pertama, dahulu Kota Medan menjadi pusat perdagangan internasional di Pantai Timur Sumatera pada abad XI. Jauh sebelum Kerajaan Melayu di Tanah Deli berdiri. (Baca juga: Museum Kota Cina, Situs Awal Perdagangan Penting di Pantai Timur Sumatera Abad XI).
Setiap hari kendaraan besar tronton melintasi Jalan Asrama Medan menuju Pelabuhan Internasional Belawan dekat dengan situs Kota Cina
Setiap hari kendaraan besar tronton melintasi Jalan Asrama Medan menuju Pelabuhan Internasional Belawan dekat dengan situs Kota Cina. /Dok. Setiadi R. Saleh

Dulu pelabuhan internasionalnya adalah Situs Kota Cina, sekarang di Kota Medan dan Sumatera Utara adalah Belawan, Teluk Nibung, dan Tanjung Balai.

Kedua, sejak dahulu di Kota Medan sudah hidup berbagai suku bangsa, multi etnik, multikultural. Bukan hanya suku bangsa yang ada di Indonesia. Tetapi, bangsa-bangsa di dunia pun berkumpul di Kota Medan. Jadi, bukan plural tetapi multikultural termasuk dalam penggunaan bahasa yang heterogen.

ketiga, jika dahulu perkebunan Tembakau Deli dan coklat yang terkenal sampai kini, sekarang pun perkebunan kelapa sawit, karet, dan nenas masih populer di mancanegara. Kota Medan dan Sumatera utara adalah lumbung perkebunan internasional.

Jika demikian, tidak ada bedanya, dahulu sama sekarang. Orang Medan adalah orang internasional, sudah terbiasa dengan perubahan dan toleransi tinggi terhadap bangsa-bangsa kulit berwarna yang berbeda.

Pembangunan boleh berlari sekencang angin. Tentu saja, di satu sisi sebagai warga Kota Medan bangga sekali melihat Kota Medan terus melaju. Tetapi, di sisi lain dan rasanya miris sekali ada hal yang terlewati yakni, persoalan krusial yang sering dihadapi masyarakat Kota Medan yakni jika hujan banjir dan tumpukan sampah. Ini masalah klasik urban: banjir, sampah, pengangguran.

Kanal-kanal belum berfungsi dengan baik, sanitasi dan air bersih belum maksimal, dan TPA (tempat pembuangan akhir) berpotensi menimbulkan masalah lingkungan. Sedangkan dari sisi kehidupan di tingkat bawah, maraknya tingkat kriminalitas, pengangguran dan narkoba serta ancaman keamanan perlu segera dituntaskan. Inilah potret Kota Medan yang sebenarnya.
Medan terus menggeliat. Doube Crane di Jalan Ring Road (simpang Pondok Kelapa Medan)
Medan terus menggeliat. Doube Crane di Jalan Ring Road (simpang Pondok Kelapa Medan). /Dok. Setiadi R. Saleh

Kemudian jika kita melangkah lebih maju sedikit. Taman-taman di Kota Medan sudah mendesak untuk dibersihkan dan ditata serta dikelola secara profesional. Termasuk disediakan jaringan internet wifi di taman tersebut. Baru taman digital Taman Ahmad Yani yang menyediakan wifi. Taman-taman lainnya masih belum tersedia dan sama sekali tidak terawat dengan baik. Perlu penambahan bunga dan tanaman apotik hidup serta pepohonan sebagai paru-paru kota.


Lalu, trotoar adalah hak mutlak pejalan kaki. Habis dipakai untuk pedagang dan pengendara sepeda motor. Tambahan lagi, belum tertib lalu lintas, merah berhenti, kuning hati-hati, hijau jalan. Di Kota Medan tidak demikian, masyarakat main lantak, ribak, tidak peduli rambu-rambu. Kalau komponen material ini sudah dipenuhi, barulah Kota Medan menjadi kota kosmopolitan yang beradab dan berbudaya.

Pasar Bebas Asia Tenggara atau Masyarakat Ekonomi Asean tidak akan begitu banyak berpengaruh kepada masyarakat di Kota Medan. Sebab, jauh hari sebelum adanya MEA. Medan sudah menjadi kota internasional yang banyak menghubungkan jalur-jalur pelayaran di dunia. Orang-orangnya sudah terbiasa dan terbuka terhadap pendatang dan perubahan. Akhir kata, orang Sumatera hakikatnya adalah penjelajah, bukan penjajah. Ini Medan Bung!

Penulis: Setiadi R. Saleh
Kutipan Favorit: "Seruan Sanubari"
Sumber: SeMedan.com - Seputar Medan

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *