Wak Uteh Tanjung Balai, Legenda Baru di Dunia Musik Melayu

Wak Uteh adalah legenda baru di dunia musik Melayu khususnya Melayu Pesisir. Ia secara langsung menjadi ikon dan tokoh di Kota Tanjung Balai Asahan. Meski, bukan berdarah Melayu tetapi kecintaan terhadap budaya Melayu membuatnya dapat mengubah paradigma berpikir tentang musik Melayu yang hanya boleh dikembangkan oleh orang Melayu.
Wak Uteh Tanjung Balai, Legenda Baru di Dunia Musik Melayu
Wak Uteh alias Djalaut Agustinus Hutabarat dalam berbagai ekspresi wajah. Cara berbicaranya tenang, sesekali sangat bersemangat ketika menjelaskan sesuatu kadang ditutup dengan tawa. Wak Uteh senang bercanda tetapi juga pemikir, tipe seniman tulen yang berkualitas dan tak lekang dikupas zaman. /Dok. SeMedan.com

Saat SeMedan.com menjumpai Wak Uteh bersama Saini di Markas Zoel Vandawa Entertaiment Tanjung Balai Asahan. Wak Uteh nyaris tanpa ekspresi melihat kami datang. Barulah setelah menjelaskan maksud kedatangan kami, beberapa saat kemudian suasana mencair dan terjadi percakapan serius diselingi senyum khas Wak Uteh.

Sebenarnya apa istimewanya Wak Uteh? Sampai-sampai Tim SeMedan.com harus jauh-jauh datang dari Kota Medan menuju Tanjung Balai Asahan untuk mewawancarai Wak Uteh. Saya pribadi harus menunggu 6 tahun baru dapat kesempatan bertemu dengan Wak Uteh. (Baca juga: Profil Wak Uteh dan Group Musik Roncah Tanjung Balai).


Satu di antara keistimewaan Wak Uteh adalah berjaya mengangkat kembali harkat musik Melayu Pesisir. Meski Wak Uteh berada di Kota Tanjung Balai. Namun, gaungnya sampai ke seluruh Sumatera dan Malaysia. “Musik kami adalah pemanggil massa seperti pada pilpres, pilkada, event-event besar kami diundang untuk tampil. Kami sudah 19 tahun dan sekarang masuk album yang ketiga puluh.” Kata Wak Uteh menegaskan.

Kiprah Wak Uteh sampai sekarang sudah 19 tahun dengan tiga puluh album. Pria berbintang Capricorn dan bernama asli Djalaut Hutabarat saat diwawancarai sesekali menerima telepon untuk melayani penjualan pemesanan keping CD. Wak Uteh tidak memakai manajemen, semua ia tangani sendiri.

Di lain hal, di tengah derasnya musik-musik modern. Musik Wak Uteh justru meraih popularitas di kalangan generasi Google dan YouTube (anak-anak muda di seluruh Sumatera). Artinya, anak-anak muda menyukai lagu Wak Uteh.
“Hari ini sudah sekian ribu orang yang mendownload lewat YouTube, tapi tak ada untungnya buat saya.” Kata Wak Uteh heran.

Ternyata, setelah kami perhatikan dalam kanal YouTube tidak terpasang adsense (sejenis) iklan khusus baik yang diunggah oleh Wak Uteh atau bukan. Terlebih Wak Uteh belum menerapkan disiplin dalam sistem royalti atas setiap lagu-lagunya. Semua serba konvensional dan sederhana, di satu sisi sangat baik karena open source dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Tetapi di sisi lain kurang baik untuk finansial pribadi dan group Roncah.

Padahal dari sisi bakat, popularitas, dan laris-manis lagu-lagu Wak Uteh sudah bisa membuat Wak Uteh menembus dunia Melayu Pesisir secara keseluruhan. Jangan sampai musik Melayu Pesisir Tanjung Balai mati di lumbung padi, tidak dihargai di negerinya sendiri.

Jenis musik Wak Uteh kalau dicermati bukanlah musik dangdut, zapin, musik Melayu mendayu-dayu, rock atau pop. Tetapi, suatu sinkretik (roncah) yang menyatukan berbagai arransmen sampai jadilah musik sebagaimana musik ciri khas yang identik dengan Wak Uteh. Terkadang jenis musik Wak Uteh pola dasarnya seperti perkusi bunyi batok ditokok (suara tempurung nyaring yang dipukul). Kemudian diberi sentuhan beat, irama, dan nada.

Wak Uteh sangat up to date dan peka terhadap perubahan zaman. Semuanya lagu-lagunya sesuai dengan kondisi terkini seperti ketika zaman orang gila batu, ada lagu Wak Uteh tentang “Gilo Batu” begitupun lagu baru yang bertemakan tentang internet yang bisa bikin orang ketagihan dan salah jalan. Lagu-lagunya seperti “Hilang Bini Dalam Kulambu, Ikan Asin, Wak Uteh, Angin Koncang, dan seterusnya” menuai decak kagum. Lirik dan lagu sama asyiknya dan tak bosan-bosan macam ada azimat dan tuah dalam setiap lagu Wak Uteh.


Kapan-kapan kalau Anda ke Tanjung Balai Asahan menemukan tulisan “Balayar Satujuan, Batambat Satangkahan.” Motto itu ciptakan oleh Wak Uteh dan kemudian dipakai di seluruh Tanjung Balai Asahan.

Kini, Wak Uteh sudah menjadi legenda yang hidup di bidang lagu dan mengangkat khazanah kemelayuan pesisir Asahan. Wak Uteh bukan orang Melayu tetapi ia adalah orang yang Ter-Melayukan seperti bunyi pantun yang sangat dikenal di Sumatera Timur, “Kapak dipakai membelah kayu, Batak bukan sembarang Batak, Orang Batak sudah Menjadi Melayu.” Dan sudah seharusnya orang Melayu jangan malu bercakap Melayu sekalipun itu di dalam kalbu.

Baca juga:
Satu Jam Lebih Dekat Dengan Saini Wak Uteh, Dalam Lagu Tersemat Hikmah
Zoel Vandawa Entertainment, Rumah Produksi Berkualitas di Tanjung Balai
Mencari Melayu di Kota Seribu Sungai, Tanjung Balai

Penulis: Setiadi R. Saleh
Kutipan Favorit: "Seruan Sanubari"
Sumber: SeMedan.com - Seputar Medan

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *