Soekarno dan Djaga Depari (Maestro Biola Dari Tanah Karo)

Presiden Soekarno pada suatu kesempatan berjumpa dengan Djaga Depari (seorang maestro biola dari Tanah Karo). Keduanya terlibat percakapan serius sampai kemudian Soekarno terinspirasi oleh sebuah syair yang dibuat oleh Djaga Depari berjudul USDEK dan kemudian lahirlah istilah USDEK, akronim dari (Undang-undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, Kepribadian Nasional).
Soekarno dan Djaga Depari (Maestro Biola Dari Tanah Karo)
Tugu monumen patung Djaga Depari didirikan tanggal 18 Februari 1998, dan diresmikan oleh Wakil Gubernur Sumut Abdul Wahab Dalimunthe mewakili Gubernur Sumut. Terletak di antara pertigaan Jalan Djamin Ginting, Wahid Hasyim dan Iskandar Muda. Kondisi patung Djaga Depari masih terawat baik. Berbeda dari patung Lily Suhaeri di Jalan Listrik kondisinya buruk dan rusak. Di Kota Medan, Sumatera Utara terdapat dua maestro biola, Lily Suhaeri dan Djaga Depari. Nama keduanya, jauh lebih dahulu dikenal oleh dunia daripada Idris Sardi. /Dok. Setiadi R. Saleh

Djaga Depari kelahiran 5 Mei 1922 adalah putra asli Karo. Ia berasal dari Kuta Seberaya, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo (Karolanden) bermarga Sembiring. Djaga Sembiring Depari atau Djaga Depari dari merga (marga) Sembiring Depari. Mengenai Kuta Seberaya bermula dari kata Serayan yang artinya kelompok kerja dalam satu pekerjaan (misal, bertani atau berladang).


Ayah Djaga Depari bernama Ngembar Sembiring Depari dan ibunya Siras Beru Karo Sekali. Djaga Depari mengenyam pendidikan di Christelijk Hollandsch Inlandsch School (HIS) di Kabanjahe. Semasa sekolah bakat musikalitas Djaga Depari sudah terlihat dan ia juga senang mendengar berbagai jenis musik. Hal ini pulalah yang menambah perbendaharaan kualitas bermusik sehingga julukan bapak musik Karo modern dinisbatkan kepada Djaga Depari.
Soekarno dan Djaga Depari (Maestro Biola Dari Tanah Karo)
Presiden Soekarno dan Djaga Depari bertemu dalam sebuah kesempatan. /Dok. Gereja Musik Karo

Kebanyakan tema-tema lagu Djaga Depari bercerita tentang semangat patriotik melawan kompeni dan rasa simpatik kepada Letjend Djamin Ginting. Sebagaimana sudah diketahui umum, Letjend Djamin Ginting adalah Pangdam pertama di Kodam I, Bukit Barisan Medan.

Djaga Depari pada tahun 1940 datang ke Medan dalam rangka belajar bahasa. Semasa menempuh studi, ia juga berlatih biola. Di kemudian hari bersama Mayor Yusuf, ia membentuk orkes musik “Melati Putih.” Karya-karya yang sudah ia tulis dan bawakan  dalam syair dan lagu antara lain:


  • Erkata Bedil
  • Sora Mido
  • Piso Surit
  • I juma-juma i padang sambo
  • Pio-pio
  • USDEK 
  • Taneh Karo Simalem
  • Terang Bulan
  • Sanggar-sanggar
  • Nangkih Deleng Sibayak
  • Mejuah-juah
  • Kemerdekaanta
  • Musuh suka
  • Ula gelangken
  • Andiko alena
  • Cit nina pincala
  • Membas-embas
  • Lasam - lasam
  • Kacang koro
  • Tanah karo simalem
  • Mbaba kampil
  • Lasam-lasam

Selain Djaga Depari terdapat juga seorang maestro biola di Tanah Deli namanya Lily Suhaeiry.

Baca juga:
100 tahun (1915-2015) Maestro Biola Lily Suheiry
Rumah Pengasingan Soekarno di Parapat

Penulis: Setiadi R. Saleh
Kutipan Favorit: "Seruan Sanubari"
Sumber: SeMedan.com - Seputar Medan

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *