Rest Area Jalan Lintas Medan-Banda Aceh, Masjid Kubah Hitam Peureulak

Sesampainya di Kota Peureulak Aceh Timur, Zuhur sudah lewat. Waktu bagian setempat menunjukkan pukul 14.00. Seorang kawan yang sudah dari tadi menunggu menawarkan opsi , apakah mau shalat dahulu atau makan. Dalam Islam dianjurkan, kalau lapar diutamakan makan terlebih dahulu baru kemudian ibadah. Tujuannya agar ketika shalat tidak terpikir lagi soal makanan. Saya memilih shalat dulu karena belum terlampau keroncongan.
Rest Area Jalan Lintas Medan-Banda Aceh, Masjid Kubah Hitam Peureulak
Kubah Hitam Masjid Raya Peureulak berada di tepi Jalan Lintas Medan-Banda Aceh. Banyak pelancong (traveler) yang menjadikan masjid ini sebagai rest area untuk istirahat dan shalat mengisi energi lahirian dan batiniah. Kemudian setelah itu kembali melanjutkan perjalanan. /Dok. Setiadi R. Saleh

Ketika shalat di Masjid Kubah Hitam Peureulak serasa batin diinisiasi ulang oleh energi semesta. Di dalam ruang masjid banyak sekali tiang penyangga sehingga masjid terkesan kurang luas dan karena terhalang tiang. Barangkali di sebalik itu semua tersemat filosofi bahwa, “Shalat adalah tiang agama.”

Habis shalat, kami langsung menuju kedai nasi di Terminal Peureulak, tersedia berbagai menu pilihan khas Kuliner Aceh. Saya memilih kari kambing. Air liur menetas di bibir tak tahan jua melihat kari kambing Aceh dalam kuali baja, aromanya harum, kuah karinya menggelegak di otak. Inilah yang membuat program vegetarian saya selalu gagal.

Iklan oleh Google
Kalau dalam suatu perjalanan mau makan jangan lihat tempat jualannya tetapi cicipi rasanya. Terpenting sudah direkomendasikan oleh kenalan makanan di kedai tersebut halal dan bersih.
Rest Area Jalan Lintas Medan-Banda Aceh, Masjid Kubah Hitam Peureulak
Kuliner khas Aceh Kari Kambing dan Kecap Cap Singa produk Langsa Aceh Timur. Jangan pernah makan kari kambing sama kecap. Di kedai nasi Aceh jarang tersedia sayur paling ada timun untuk lalapan semua serba gulai. /Dok. Setiadi R. Saleh

Habis bersantap perut kenyang dan hatipun senang. Barulah kawan saya itu cerita bahwa ia minta maaf tidak bisa membawa saya keliling Peureulak untuk menemukan jejak Kesultanan Peureulak 1000 tahun lalu. Sebab, ia harus menyiapkan acara Maulid Nabi Muhammad Saw. Selain itu, tidak ada tengku besar yang dapat diwawancarai. Di Aceh, peringatan maulid dirayakan sebesar-besarnya dan memiliki arti sangat penting.

Pikir punya pikir, tak mungkin saya langsung balik arah ke Kota Medan. Ikut hati mati, ikut rasa binasa. Akhirnya saya telepon seorang rekan yang berada di Rantau Panjang Peureulak, 16 kilometer lagi dari Kota Peureulak Aceh Timur.

Kota Rantau Panjang Peureulak Aceh Timur tahun 1970-1990-an adalah kota strategis dan menjadi incaran perantauan untuk mengadu nasib. Di Kota Rantau Panjang Peureulak pernah berdiri perusahaan besar yang terkenal hingga ke mancanegara namanya Asamera Oil (Ltd) Ind.

Iklan oleh Google

Di sinilah ribuan orang pernah bekerja dari berbagai suku bangsa dan tinggal di Kota Rantau Panjang Peureulak Aceh Timur. Saya berpisah dengan kenalan saya yang orang Peureulak, sedikit kecewa tetapi bahagia sudah lebih dekat dengan Rantau Panjang Peureulak.
Rest Area Jalan Lintas Medan-Banda Aceh, Masjid Kubah Hitam Peureulak
Museum H.T Mohammad Thayeb di Kota Peureulak Aceh Timur. /Dok. Setiadi R. Saleh

Di langit Kota Peureulak awan bergeser cepat dan waktu Ashar selangkah lagi. Tetapi angkutan menuju Kota Rantau Panjang Peureulak tidak tersedia lagi. Mungkin bersamaan dengan libur anak sekolah jadi tidak ada yang mau jalan. Sudako di Peureulak disebut Sudek, sedangkan di Banda Aceh disebut Labi-labi. Akhirnya sore itu juga saya putuskan naik ojeg atau RBT (Rakyat Banting Tulang) langsung menuju Kota Rantau Panjang Peureulak.

Baca sebelumnyaPerjalanan Round Trip Medan-Aceh Timur Peureulak, Naik Bus Tanpa Tiket
Baca juga: Bus Aceh Terbaru, Paduan Antara Kemewahan dan Kenyamanan

Penulis: Setiadi R. Saleh
Kutipan Favorit: "Seruan Sanubari"
Sumber: SeMedan.com - Seputar Medan

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *