Pilkada Medan, Sebuah Refleksi Tanpa Tendensi

Pilkada Medan adalah bagian dari Pilkada serentak di seluruh Indonesia yang akan diselenggarakan pada 9 Desember 2015. Di Kota Medan pasangan kandidat calon walikota dan wakil walikota masing-masing memiliki taglines REDI dan BENAR. REDI adalah akronim Ramadhan Pohan dan Eddie Kusuma. Sedangkan BENAR akronim dari Bang Eldin dan Akhyar.
Pilkada Medan, Sebuah Refleksi Tanpa Tendensi
Gambar kedua pasangan calon walikota dan wakil walikota Medan. /Dok. Fans page facebook BENAR dan REDI.

Siapapun nanti yang “menang” dalam pertarungan calon Walikota Medan dan Wakil Walikota Medan haruslah amanah yang berpihak kepada kebutuhan rakyat. Tetapi, siapakah rakyat yang dimaksud? Dan mengapa rakyat harus dipimpin? Apakah rakyat belum dewasa?

Ungkapan kuno menyebutkan, “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan” (vox populi vox dei) barangkali sudah tidak lagi berlaku. Sebab, suara Tuhan tidak mungkin keliru. Tetapi, rakyat sudah pandai “menipu” Tuhan dengan bersuara yang bukan lagi suara Tuhan. Melainkan suara hawa nafsu lantaran berkali-kali ditipu oleh janji palsu. Jangan salahkan rakyat, mereka belajar dari pemimpin yang berulang kali berjanji dan ingkar janji tiada henti.


Pilkada Medan 2015 menjadi sangat menarik untuk diikuti karena pasangan kedua calon walikota dan wakil walikota datang dari latar belakang yang berbeda. Pasangan yang satu pernah memimpin Kota Medan. Sedangkan pasangan yang satu lagi adalah “orang luar” yang melihat Kota Medan sangat potensial dari berbagai hal. Keduanya boleh saja sama-sama bersemangat membangun Kota Medan. Tetapi yang perlu diingat, psikologis masyarakat di Kota Medan sebenarnya tidak terlalu “open” (peduli-terbuka) dengan politik. Jadi, lebih mau menikmati hasilnya daripada mau tau bagaimana prosesnya.

Refleksi tanpa tendensi (keberpihakan) terhadap calon walikota dan wakil walikota. Jauh lebih baik karena dengan demikian tidak akan ada ujaran kebencian (hate speech) dan kampanye hitam (black campaign). Tetapi, politik adalah politik hal tersebut sukar dihindari.

Kalaulah REDI dan BENAR mau membaca sejarah kota Medan seperti: Kota Medan Tahun 1860-1950, Topografi M.A. Loderichs pasti akan ditemukan kunci jawaban bagaimana cara jitu membuat Kota Medan kembali jaya seperti dahulu.

Bagaimana mungkin Medan menjadi rumah kita bersama jika kita tidak REDI (baca: ready dalam keadaan siap) untuk BENAR-benar bersatu. Kita bukan hanya satu medan atau medan satu (menjadi satu atau dijadikan satu) melainkan bersaudara satu sama lain. Tidak peduli suku apa dan agamanya apa. Terpenting bertekad membuat Medan maju. Tidak ada keluhan banjir, pendidikan mahal, jalan rusak, lampu penerangan mati, begal bergentayangan, dan sejibun persoalan yang antri untuk diselesaikan.


Demokrasi telah mengajarkan semua warga negara memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup (nasib) suatu bangsa atau suatu kota. Ironisnya, kesempatan ini tidak digunakan oleh setiap orang untuk menggunakan hak pilihnya. Apa mau dikata, kesetaraan dalam demokrasi menyebabkan penyeragaman.

Ingat 9 Desember 2015 adalah hari yang sangat bersejarah bagi demokrasi Indonesia. Pilkada Medan, Pilkada serentak, libur serempak seluruh Indonesia. Selamat menyucuk (mencoblos)!

Baca juga:
Pilkada Medan 2015, Kemana Harus Mencoblos?
Hasil Quick Count Pilkada Medan 2015, BENAR Memimpin Sementara

Penulis: Setiadi R. Saleh
Kutipan Favorit: "Seruan Sanubari"
Sumber: SeMedan.com - Seputar Medan

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *