Kota Medan Tahun 1860-1950, Topografi M.A. Loderichs

Kabar Medan terbaru ditinjau dari potret kekinian adalah sebuah kota metropolis yang dinamis. Hal ini ditandai banyaknya pendatang dari luar Sumatera yang “mengundi nasib” mencari penghidupan lebih baik di Kota Medan. Selain itu, percepatan pembangunan infrastruktur, layanan publik, pusat perbelanjaan, kampus, rumah sakit, hotel berbintang lima, tempat wisata terbaru dan aktifnya sejumlah komunitas Medan terus memperkaya khasanah Medan sebagai kota tujuan. Hal ini juga mendorong urbanisasi masyarakat sub-urban seperti Tembung, Marelan, Mencirim, Binjai, Tanjung Morawa, dan Lubuk Pakam datang ke Medan.
Kota Medan Tahun 1860-1950, Topografi M.A. Loderichs
Cover buku “Topografie M.A. Loderichs,  Medan-beeld-van-een-stad” Kota Medan tahun 1860-1950. /Dok. auction.catawiki.com

Kemudian, bila dikaji lebih jauh dan berdasarkan fakta bukan cerita Medan apalagi koyok-koyok anak Medan. Dari sisi modernitas, Kota Medan boleh berbangga hati. Tetapi, dari segi kekuatan sejarah dan ciri khas sebuah kota, Medan semakin kehilangan arah. Tidak ada indikator bahwa sejarah pernah berbinar di Tanah Deli. Indikator termudah dapat dilihat dari identitas Bangsa Eropa, India, Tiongkok, Melayu, Persia, Arab. melalui jejak bangunan bersejarah yang masih berdiri sampai hari ini tetapi tersudut dalam ruang imajiner.

Oleh karena itu, buku yang ditulis oleh M.A. Loderichs berjudul, “Medan Beeld van Een Stad” mencoba melontarkan ke relung terjauh dari kurun masa silam Kota Medan antara tahun 1860-1950. Buku Medan Beeld van Een Stad ditulis oleh M.A. Loderichs dan disusun bersama Dirk A. Buiskool & JR Diessen, D.A. Buiskool, B.B. Hering, C.A. Heshusius, A. Mansoer, G.O. Prins  dan dijilid hardcover dilengkapi dengan peta. Diterbitkan oleh Asia Maior pada tahun 1997 dengan jumlah halaman setebal 160 halaman.


Dalam buku “Medan Beeld van Een Stad” digambarkan bagaimana Medan pada gilirannya, menjadi kota terbesar di Sumatera yang berdiri sejak tahun 1870 sebagai pusat pembangunan tembakau kolonial kapitalis dengan segala kontradiksi sosial yang tajam. Setelah masa pendudukan Jepang, Medan mengalami krisis ekonomi, terlebih ketika revolusi dan penurunan rezim politik Sukarno menyebabkan stagnasi.

Sejarah penting dari Medan dan Tanah Deli harus diperluas sehingga dapat ditemukan penelitian terbaru. Kota Medan layak mendapat banyak pujian karena citranya sebagai kota bersejarah. Harusnya demikian, tetapi apa mau dikata, jauh panggang dari api.

Masih di buku yang sama, digambarkan tentang Perkebunan di Pantai Timur Sumatera 1870-1942. Medan telah tumbuh menjadi daerah terkaya dan paling produktif di Hindia Belanda dari seluruh Hindia Belanda di luar Jawa. Kota Medan memiliki hasil dari industri perkebunan berskala besar di pantai timur Sumatera. Sebagian besar pekerja direkrut dari Tiongkok dan Jawa yang mengakibatkan terjadi struktur sosial baru.

Meski, Medan tampaknya menjadi kota perkebunan yang didominasi Eropa, terdapat juga pengusaha Tionghoa dan pengusaha India dan Kesultanan Deli. Di Medan, orang yang paling terkenal dari Bangsa Tiongkok saat itu adalah Tjong A Fie.

Pada tahun 1864 pejabat pemerintah Belanda menetap pertama kali di Laboehan, tepat pada mulut Sungai Deli. Tahun 1870 Belanda menghapuskan sistem budaya menyebabkan penduduk setempat terpaksa memproduksi tanaman tertentu bagi pemerintah. Ketika sistem “koeli” telah berakhir, pertanian di Hindia menjadi terbuka untuk perusahaan pertanian besar. Dari sinilah kisah-kisah manusia Jawa Deli sebagai pendatang mulai menampakkan taji.
Kota Medan Tahun 1860-1950, Topografi M.A. Loderichs
Sejumlah foto-foto bangunan bersejarah, Istana Maimun, Pelabuhan Belawan, Perkebunan, Jalan Raya dan lain sebagainya menunjukkan betapa maju dan tertatanya kota Medan Tanah Deli dahulu. Identitas bangsa-bangsa yang berbeda terjalin satu sama lain tidak membuat Tanah Deli kehilangan jati diri. /Dok. auction.catawiki.com


Kegemilangan Tanah Deli terjadi ketika awal Kesultanan Melayu Deli yang sangat kooperatif dan memberi konsesi untuk Nienhuys pada tahun 1863. Sejak saat itu kesultanan Melayu menerima jumlah tahunan yang besar dari perkebunan tembakau. Pada masa itu, sistem politik pemerintahan secara hukum (defakto) dipegang dan dikuasai oleh Sultan.

Sementara Belanda hanya diwakili pemerintah Batavia. Kontrak tanah antara sultan dan Bangsa Eropa harus disetujui oleh warga sebagai anak negeri penduduk asli. Sekarang Kota Medan bukan lagi demikian. Bangunan bersejarah beralih fungsi dan kedudukan kesultanan entah kapan bersemi kembali.

Penulis: Setiadi R. Saleh
Kutipan Favorit: "Seruan Sanubari"
Sumber: SeMedan.com - Seputar Medan

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *