Masjid Raya Al-Mashun Medan, Topografi 109 Tahun

Masjid Raya Medan atau Masjid Al-Mashun adalah masjid yang sama. Tetapi, tidak semua publik di Medan tau nama Masjid Raya yang sebenarnya bernama Al-Mashun. Masjid Raya Al-Mashun saat ini berumur 109 tahun (2015). Dibangun pertama kali pada Hari Senin, 21 Agustus 1906 (1 Rajab 1324 H) dan selesai 3 tahun kemudian pada Hari Kamis, 10 September 1909 (25 Sya‘ban 1329 H). Keesokan harinya langsung dipakai ibadah Shalat Jum’at. Pemrakarsa berdirinya Masjid Raya Al-Mashun adalah Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam (Sultan Deli IX).
Masjid Raya Al-Mashun (Masjid Raya Medan)
Masjid Raya Al-Mashun (Masjid Raya Medan) saat ini berumur 109 tahun. Dibangun selama 3 tahun 1906-1909. Letaknya 200 meter dari Istana Maimun. Pemrakarsa berdirinya Masjid Raya Al Mashun adalah Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam (Sultan Deli IX). Arsitek Masjid Raya, Van Erp dan JA Tingdeman. /Dok. Setiadi R. Saleh

Dilihat dari topografi 109 tahun berdirinya Masjid Raya Al-Mashun konstruksinya mengambil perpaduan gaya Timur Tengah (Arab dan Persia), India (Mughal), Spanyol (Andalusia), Turki (Ottoman) dan Eropa. Sepintas mirip masjid lainnya semasa Melayu Deli berjaya.

Baca: 161 Tahun, Mesjid Kuning Osmani Labuhan Deli

Sebelum memasuki Masjid Raya Al-Mashun ada gapura. Gapura merupakan pintu besar untuk masuk pekarangan rumah, jalan, taman, bangunan. Gapura juga simbol penghormatan/penyambutan kepada tamu. Di sebelah gapura ada pos penjagaan (mirip kantor kecil). Sebelah Timur ada tempat berwudhu dan di sekeliling masjid terdapat saluran-saluran air. Setelah gapura ada beranda untuk masuk ke ruang utama dengan jumlah anak tangga 13. Anak-anak penyemir dan penjaga selop/sendal/sepatu siap menawarkan jasa.
gapura sebelum memasuki masjid raya, gapura simbol kehormatan menyambut tamu
Gapura sebelum memasuki masjid raya. Gapura simbol kehormatan menyambut tamu. /Dok. Setiadi R. Saleh

Sebagian bangunan masjid menggunakan kayu kualitas nomor satu. Masjid Raya Al-Mashun berbentuk segi delapan dengan empat “sayap atau serambi” penjuru mata angin: Barat, Timur, Utara, Selatan. Antara satu beranda saling terhubung seperti lorong atau gang. Sedangkan bagian dalam masjid terdapat 8 pilar yang menjadi penyangga kubah. Jumlah kubah seluruhnya ada 5, 1 kubah utama, 4 kubah lagi ada di selasar masing-masing.

Tiap-tiap kubah yang berwana hitam memiliki teras dan pintu tersendiri yang menghadap ke arah jalan yang berbeda-beda. Tetapi, kini hanya satu pintu saja yang berfungsi. Kalau penulis tidak khilaf pintu Timur saja yang dibuka. Kemudian, pada setiap jendela terpasang kaca patri. Masjid Raya Al-Mashun dirancang oleh arsitek Van Erp dan JA Tingdeman.

Sedangkan menara Masjid Raya Al-Mashun ada dua. Di pekarangan belakang terdapat kuburan Raja-raja Melayu, Gubernur Sumatera Utara, dan Haji Guru Kitab Sibarani, pendiri Yayasan Zending Islam Indonesia

Baca: Kiprah Zending Islam Indonesia di Medan, Sumatera Utara
menara masjid dan pekarangan belakang masjid raya tempat makam raja-raja melayu dan orang penting di sumut
Menara Masjid dan pekarangan belakang Masjid Raya tempat makam Raja-raja Melayu dan orang penting di Sumatera Utara. /Dok. Setiadi R. Saleh

Keistimewaan Masjid Raya Al-Mashun, selain sudah berumur 109 tahun dan menjadi ikon Kota Medan. Masjid ini menawarkan pesona keindahan sekaligus edukasi iman agar setiap pengunjung merasa dekat kepada Tuhan. Al-Mashun sendiri secara bahasa berarti ‘dipelihara.’ Kenyataannya demikian, masjid ini masih terpelihara hingga kini.
Satu di antara empat lorong yang ada di Masjid Raya Al-Mashun
Satu di antara empat lorong yang ada di Masjid Raya Al-Mashun. /Dok. Setiadi R. Saleh

Berdasarkan pengamatan penulis Masjid Raya Al-Mashun terasa sempit. Mimbar pun tampak kecil, belum lagi ditambah rak berisi Al-Qur’an dan buku-buku agama Islam berjajar rapi. Ruangan terasa sempit mungkin karena setiap sudut memiliki satu teras. Hal ini berbeda dengan masjid raya pada umumnya yang dibiarkan tanpa pilar dan terasa lapang.
pilar-pilar masjid raya
Pilar-pilar Masjid Raya. /Dok. Setiadi R. Saleh

Setiap tamu-tamu yang datang ke Masjid Raya Al-Mashun tidak selalu ingin melakukan ibadah. Kebanyakan malah hanya berfoto ria. Bagi tamu-tamu non-Muslim (khususnya perempuan), sudah dianjurkan berpakaian menutup aurat. Sebab, sedang memasuki tempat suci. Hormatilah rumah ibadah jangan samakan dengan mall. Aturan lainnya, tidak boleh meludah di halaman, tidak membuang sampah sembarangan, harap memakai alas kaki.

Iklan oleh Google

Satu lagi, jarak antara masjid dengan tempat berwudhu sekitar 3 meter dan sebaiknya memakai alas kaki yang sudah disediakan seperti terompah (kasut kayu). Tujuannya agar setelah bertharah (bersuci) tidak terkena najis.
tempat berwudhu di masjid raya
Tempat berwudhu di Masjid Raya. /Dok. Setiadi R. Saleh

Sesekali beribadahlah di Masjid Raya, doakan orangtua dan keluarga. Datang juga pada malam hari atau pada bulan Ramadhan (Baca: Ramadhan Fair 2015). Suasana Masjid Raya terasa ramai dan syahdu dengan permainan lampu hias berwarna-warni. Di sinilah terlihat mana yang sekedar jalan-jalan atau tulus berdoa mengharap ridha dan pertolongan dari Allah SWT.
bermain di kolam masjid raya medan
Bermain di kolam Masjid Raya Medan. /Dok. Setiadi R. Saleh

Akhir kata, semoga kita selalu “dipelihara” (Al-Mashun) oleh Tuhan agar hidup kita bahagia dan sejahtera sebagaimana Masjid Raya Al-Mashun yang bukan hanya terpelihara tetapi juga termasyur sampai seantero dunia. Amin.

Penulis: Setiadi R. Saleh
Kutipan Favorit: "Seruan Sanubari"
Sumber: SeMedan.com - Seputar Medan

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *