Mencari Melayu di Tanah Deli, Sebentuk Retrospeksi

Dalam sejarahnya, Bangsa Melayu secara keseluruhan adalah pengembara lautan. Pembaharu arus jalur sejarah zaman. Begitu luas daerah sempadan dan sayangnya kini seperti “kehilangan.” Sempadan adalah batas negeri, daerah, sawah, pesisir, tanda batas, garis pancang, dan sesuatu yang dikandung dalam ideologi dan cara hidup.
Beranjak Sela Selamat Bahagia, demikian yang tertulis pada tapal batas terakhir Kota Medan
Beranjak Sela Selamat Bahagia, demikian yang tertulis pada tapal batas terakhir Kota Medan dengan Tanjung Morawa Deli Serdang Lubuk Pakam. Tugu penanda ini dengan mudah dapat dikenali setelah melewati Medan Amplas dan POLDASU. /Dok Setiadi R. Saleh.

Kebudayaan dan peradaban Melayu sudah pernah mencapai ufuk tertinggi. Maka, tidak ada lagi pencapaian selain reruntuhan kepunahan. Ini siklus alami dalam sejarah manapun. Pencapaian Bangsa Melayu bukan diberikan melainkan diupayakan dengan kesungguhan. Satu di antara pencapaian tertinggi Bangsa Melayu adalah bahasa. Dan bahasa adalah pengantar atau alat untuk berpikir, menyampaikan maksud sekaligus pintu utama menuju sumber ilmu pengetahuan.

Jangan lupa, Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu. Sedangkan Bahasa Melayu berasal dari percampuran (sinkretik) dari Bahasa Arab, Persia, dan Sanskrit. Sampai kemudian hari timbul bahasa tersendiri dengan aksara Arab-Melayu sebagai lingua franca (bahasa penghubung) dalam komunikasi sehari-hari.

Secara geografis manakah batas Melayu sesungguhnya? Sekadar menyebutkan contoh, Melayu dalam pandangan awam hanya sebatas di Pulau Sumatera, Kalimantan, Brunei, dan Malaysia. Sesungguhnya tidak demikian. Silakan baca lebih banyak literatur, cakupan wilayah Melayu ini sangat luas hingga ke Madagaskar dan Asia Tenggara.

Jika membicarakan Melayu, penulis bukan sedang membela suatu bangsa atau puak Melayu melainkan sedang menyusuri sebuah Bangsa Melayu yang pernah jaya dan pernah kalah. Termasuk di dalamnya adalah Melayu Deli (Medan) kini.
kantor melayu baru di jalan setia budi
Kantor Melayu baru di jalan setia budi. /Dok. Setiadi R. Saleh

Di Sumatera Utara, terdapat 3 kesultanan Melayu yakni, Melayu Deli, Melayu Langkat, dan Melayu Serdang. Masing-masing memiliki negeri dengan kesultanan tersendiri.  Kesultanan Deli secara defakto dimulai dari tahun 1632–1946. Pada masa itu, wilayah ibu kota Kesultanan Deli berada di Deli Tua dan  Labuhan Deli, Kota Medan.

Baca juga: Mesjid Kuning Osmani Labuhan Deli

Kesultanan Melayu berbentuk Monarki Kesultanan yang sultannya (raja) wajib mengetahui kaidah Ushul Fiqih: “hukum wasilah (jalan yang menuju) serupa dengan hukum tujuan” dengan menggunakan 4 sumber rujukan hukum Islam yang termuat dalam kanun (undang-undang; peraturan; hukum; kaidah; kitab undang-undang). Empat sumber hukum Islam tersebut antara lain:  Al-Qur’an, Hadis, Ijma, dan Qias.

Sebagaimana umum diketahui Kesultanan Deli berdiri tahun 1632 oleh Tuanku Panglima Gocah Pahlawan. Sampai kini Kesultanan Deli masih ada meski tidak lagi mempunyai kekuatan politik secara absolut. Secara singkatnya, pemerintahan Monarki Kesultanan Deli dimulai dari Sultan:

  • 1632-1669 - Tuanku Panglima Gocah Pahlawan
  • 1945-1967 - Sultan Osman Al Sani Perkasa Alamsyah
  • 2005-Kini - Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alamsyah


Jika tidak menyusuri sejarah atau membaca literatur, dapatkah Melayu di Tanah Deli dikenali lagi? Baik itu melalui bahasa dialek Melayu Sumatera Timur, lanskap dan ikon kota, istana peninggalan raja-raja Melayu seperti Istana Maimun (Lihat Video) atau dengan cara mengenali manusia Melayu itu sendiri. Oleh karena Bangsa Melayu merupakan ras tersendiri hasil dari himpunan banyak bangsa. Maka, tidaklah sulit bagi Melayu untuk menjalin pertemanan dengan bangsa-bangsa di dunia seperti Eropa, Tionghoa, India, Arab. Melayu sangat terbuka akan perubahan zaman dan ini tercermin dalam semangat pembangunan Jembatan Kebajikan.

Baca juga: Jembatan Kebajikan Virtuous Bridge,  1916-2015)

Adapun maksud dari “Mencari Melayu di Tanah Deli” adalah mengenali kembali Melayu di Tanah Deli dengan gambaran kekinian.  Siapapun dia, selagi tinggal di Tanah Deli (Medan) kini, suka atau tidak suka dengan sendirinya ia akan menjadi “Termelayukan”
Akhir kata, riwayat bermula dari dahulu. Asal debu pasti pulang ke debu. Asal Melayu pasti pulang ke Melayu.

Istana Maimun Medan - Sumatera Utara


Baca juga:
Istana Maimun Medan
Topografi Istana Lima Laras

Halaman


Penulis: Setiadi R. Saleh
Kutipan Favorit: "Seruan Sanubari"
Sumber: SeMedan.com - Seputar Medan

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *