Jembatan Penyeberangan, Kapan Terakhir Kali Kita Menyeberanginya?

Jembatan penyeberangan memiliki fungsi penting untuk menyeberang dari satu jalan ke jalan lainnya. Kegunaan jembatan penyeberangan diperuntukkan bagi pejalan kaki. Faktanya sebagian pejalan kaki memilih “potong kompas” menyeberang langsung di jalan raya tanpa mengindahkan kendaraan yang sedang melaju kencang. Alhasil, apabila terjadi “insiden” maka pengendara kendaraan yang paling mudah disalahkan, bukan pejalan kaki.
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang berada di Jalan Jenderal Gatot Subroto Plaza Medan Fair (Carefour) dan Pajak Petisah Medan
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang berada di Jalan Jenderal Gatot Subroto Plaza Medan Fair (Carefour) dan Pajak Petisah Medan. /Dok. Setiadi R. Saleh

Umumnya pejalan kaki, enggan menggunakan jembatan penyeberangan karena dinilai kurang praktis dan tidak aman. Sebab, pada jembatan penyeberangan tertentu kondisinya berkarat, berlubang, rusak dan goyang sehingga menimbulkan paranoia bagi yang melewatinya.
Karat berlubang dan tangga kayu sudah goyang sangat berbahaya bagi pejalan kaki. Sampah mengendap di antara celah tangga. Sesekali bau pesing menyergap
Karat berlubang dan tangga kayu sudah goyang sangat berbahaya bagi pejalan kaki. Sampah mengendap di antara celah tangga. Sesekali bau pesing menyergap. /Dok. Setiadi R. Saleh

Walaupun demikian, jembatan penyeberangan di Kota Medan bukan seperti di Kota Jakarta atau kota besar lainnya. Di Jakarta, jembatan penyeberangan sebagaimana yang digambarkan dalam layar kaca adalah tempat tindak kriminal yang bisa merenggut siapa saja. Pendek kata, kalau di Jakarta, Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) memiliki cerita tersendiri.  Bukan itu saja, jembatan penyeberangan berisi kaum marjinal, orang stress (maaf, orang gila yang hidup dengan pikirannya sendiri), pedagang, dan “preman lontong” (remaja tanggung yang baru merintis karier di dunia hitam).

Di Kota Medan berbeda keadaannya. Jarang sekali orang memanfaatkan jembatan penyeberangan, tidak ada pedagang atau preman. Jembatan penyeberangan terasa sepi, lengang dan kosong. Belakangan hari malah seperti “rongsokan besi” beralih fungsi menjadi papan iklan. Padahal Perda mengenai larangan menyeberang di jalan raya protokol sudah dikeluarkan di sejumlah kota.

Artinya, masyarakat harus menaati hukum untuk menyeberang di jembatan penyeberangan yang sudah disediakan. Peratuan daerah (Perda) ini berhubungan juga dengan jalan khusus pejalan kaki (pedestri), Skybridges, Pedestrian Tunnels, jalur sepeda, zebra cross.


Jembatan penyeberangan orang (JPO) dalam skala luas adalah bagian dari manajemen lalu lintas dan transportasi berkelanjutan. Contoh nyata Pedestrian tunnels (lorong atau terowongan bagi pejalan kaki) bisa dilihat pada stasiun kereta api kota Medan.

Baca: Stasiun Kereta Api Medan, Berubah Tanpa Rekaman Jejak Sejarah
Jembatan penyeberangan orang (JPO) sepi dan kosong, tidak ada orang yang menyeberang atau pedagang kaki lima yang membuka lapak dadakan. Sebagian plat besinya sudah berkarat dan berlubang sehingga kendaraan di bawah terlihat dan menimbulkan paranoia bagi yang melewatinya
Jembatan penyeberangan orang (JPO) sepi dan kosong, tidak ada orang yang menyeberang atau pedagang kaki lima yang membuka lapak dadakan. Sebagian plat besinya sudah berkarat dan berlubang sehingga kendaraan di bawah terlihat dan menimbulkan paranoia bagi yang melewatinya. /Dok. Setiadi R. Saleh

Jembatan penyeberangan orang (JPO) di Indonesia memiliki fungsi berbeda-beda seperti di Jakarta misalnya sebagai penghubung antar shelter bus transjakarta, sementara di Bandung ada yang dipakai khusus tempat iklan dan bisa dilalui sepeda motor. Sedangkan di Kota Medan, jembatan penyeberangan orang menggunakan eskalator berjalan yang menghubungkan antara pusat perbelanjaan Pajak Petisah dengan Carefour-Plaza Medan Fair.

Baca: Pajak Petisah Medan, Paduan Pasar Tradisional dan Modern

Mengenai pentingnya jembatan penyeberangan tertera juga dalam kurikulum pendidikan pelajaran PKN atau PMP zaman tahun 90-an.

Pembuatan jembatan penyeberangan orang (JPO) membutuhkan perhitungan logis dan matematis seperti seberapa efektif penggunaan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) dan variabel pendukungnya termasuk desain, volume kepadatan jumlah kendaraan yang melintas, keamanan dan kenyamanan bagi pejalan kaki.

Jadi, teringatnya kapan terakhir kali Anda menggunakan jembatan penyeberangan dan di mana?

Penulis: Setiadi R. Saleh
Kutipan Favorit: "Seruan Sanubari"
Sumber: SeMedan.com - Seputar Medan

Translate

loading...

Contact Form

Name

Email *

Message *